Mukhalafatu lil Hawaditsi = Tuhan berbeda dengan makhluk yg diciptakannya.

– Alam semesta selalu menyimpan banyak misteri yg mungkin sebaiknya tetap menjadi misteri.

Di tulisan ini mengandung cerita & opini pribadi yg agak kompleks. Saya harap kalian berhenti di sini saja..

Silahkan lanjutkan aktivitas lain.. Terima kasih!

**

Saya mengawali blog Beng.Ong dengan postingan paradoks persimpangan hidup atau banyak pilihan yg melahirkan kebebasan dan kebingungan. Dari kebebasan dan kebingungan ini saya mulai mengeksplor apa yang belum saya ketahui dalam hidup.

Nah, berbicara soal kebebasan memilih. Mungkin kalian pernah berpikir ‘apakah manusia itu punya kebebasan dalam memilih?’ Bebas berkehendak serta bisa menginginkan apa saja yang manusia itu mau.

Kalo jawabannya, iya. Kalian menganut konsep free will, sebuah konsep yg berpandangan bahwa manusia bebas berkehendak sesuai apa yang manusia itu inginkan, manusia punya kekuasaan dalam membuat keputusan untuk masa depannya, kemudian harus mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.

Lawan dari konsep di atas adalah konsep determinisme, yg mengatakan bahwa sebenarnya manusia itu nggak punya kebebasan. Pandangan umumnya, kehidupan manusia sudah ditentukan sebelumnya oleh sebab, kita hanya tinggal menjalaninya dengan baik, menerima apapun yg terjadi dengan hati yg lapang, kita sudah ada yg ngatur.

Kedua konsep ini sudah menjadi perdebatan panjang dalam filsafat, sains, teolog pemikir agama dan mungkin orang yg selalu ingin mencari jawaban.

Curhat Takdir yg Kompleks

Beberapa tahun yg lalu, mungkin 3 tahun ke belakang, saya sempat struggle dengan konsep takdir yg menurut saya membingungkan, ini terjadi karena tipisnya pemahaman agama saya.

Sehingga bagi saya, Takdir dan Determinisme adalah konsep yg sama. Konsep ‘takdir’ secara sempit menyatakan bahwa semua hal sudah ditentukan lebih dulu oleh Sang Pencipta.

  • Dalam kbbi, takdir/tak·dir/: ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan; nasib.

Nah, sebagai seorang muslim, saya sangat percaya dengan konsep ini karena merupakan rukun iman yang ke-6: Qada’ dan Qadar (al-Qada’ wa’l-Qadar).

Namun dalam satu fase, saya sampai pada titik bingung saat terus memikirkan tentang takdir. Mungkin hal ini juga pernah terjadi dalam hidup kalian, saat mulai melihat kompleksitas dalam realitas kehidupan.

Contoh ketika saya melihat maling, saya bertanya dalam hati, “apakah dia maling sudah ditentukan hidupnya seperti itu oleh Tuhan yg Maha Menentukan?, atau mungkin sebenarnya Tuhan nggak ikut campur dalam hal ini, ini murni kemauan si maling.

Dan ketika melihat hamba berdo’a seperti sedang memaksa seseorang, saya terpikirkan:

Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu.. Saat hamba itu berdo'a dengan nada memaksa, lalu Tuhan kabulkan. Apakah kuasa Tuhan telah gugur hanya karena menuruti keinginan manusia yg memaksanya itu?

Jika demikian, Tuhan bukan mengatur lagi, melainkan diatur oleh keinginan makhluk-Nya.

Saat dalam keadaan hampir menyerah, saya sempat berpikir “Atau mungkin Tuhan tertawa saat saya menerima takdir-Nya begitu saja... dalam artian saya gak mau berusaha lebih keras.

Jika kalian mulai pusing, saya harap jangan berhenti membaca sampe di sini.

Free Will dalam Islam

Kembali ke pembahasan tentang free will dan determinisme.

Pada abad ke-9 Masehi, perdebatan mengenai kehendak bebas (free will) di dalam tradisi pemikiran kalām (teologi Islam) sangat menekan sejauh mana peran kehendak Allah dan kehendak manusia dalam menentukan rangkaian kejadian di dunia ini.

Di agama islam sendiri ada banyak golongan yg berbeda pendapat mengenai hal ini, hingga muncul berbagai paham: Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyah, dll.

Qodariyah: Kaum Free Will

Qadariyah salah satu aliran dalam pemikiran Islam yang menganut keyakinan akan kebebasan kehendak (free will) manusia.

Dalam pandangan Qadariyah, manusia memiliki kebebasan dalam membuat pilihan dan bertindak, dan mereka memiliki kemampuan untuk memilih antara tindakan yg baik dan buruk, manusia memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.

Meskipun golongan ini meyakini bahwa Tuhan memiliki kekuasaan dan kehendak yang maha tinggi, golongan Qodariyah berpendapat bahwa Tuhan telah menyerahkan sepenuhnya kekuasaan dan kehendak ini kepada manusia. Dalam artian Tuhan nggak punya kendali lagi atas kehendak manusia.

Pandangan ini kemudian diadopsi oleh kaum Mu’tazilah dengan sedikit modifikasi, namun esensinya tetap sama. Hanya perbedaan dalam cara mereka mengklasifikasikan perbuatan manusia.

Kaum Qadariyah cenderung melihat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam tindakan mereka tanpa membedakan jenis perbuatan, sementara Mu’tazilah membagi perbuatan menjadi dua jenis, yaitu perbuatan yg timbul dengan dirinya sendiri (refleks) dan perbuatan bebas (sengaja). Perbuatan jenis yang kedua inilah yang dimaksudkan sebagai perbuatan yg diciptakan atau dihasilkan oleh manusia.

Jabariyah: Kaum Hard Determinisme

Jabariyah adalah sebuah sekte dalam Islam yang meyakini bahwa manusia nggak punya kekuatan atau kebebasan dalam melakukan atau meninggalkan tindakan. Golongan ini meyakini bahwa manusia terpaksa dalam semua tindakannya dan nggak punya kekuasaan untuk memilih atau berusaha.

Menurut pandangan Jabariyah, perbuatan manusia sebenarnya bukan tindakan manusia itu sendiri, melainkan merupakan hasil penciptaan Tuhan yang dilakukan melalui organ fisik manusia. Oleh karena itu, manusia nggak punya otoritas untuk bertindak, dan perbuatan mereka adalah seperti benda mati yang bergerak karena Tuhan yang mengendalikannya. Ini berarti bahwa seseorang yang melakukan tindakan dosa nggak akan dianggap kafir, karena mereka melakukan apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan secara terpaksa.

Ada dua golongan dalam pandangan Jabariyah. Pertama, Jabariyah murni, yang berpendapat bahwa semua tindakan manusia adalah kehendak mutlak Tuhan tanpa campur tangan manusia sama sekali. Kedua, Jabariyah moderat, yang meyakini bahwa perbuatan manusia telah ditentukan oleh Tuhan, tetapi manusia masih punya kemampuan meskipun nggak punya kekuasaan penuh.

Asy’ariyah: Free Will & Determisme

Asy’ariyah adalah golongan yang mengikuti ajaran ulama Abu Hasan al-Asy’ari. Pada awalnya Abu Hasan all-Asy’ari adalah seorang filosof Mu’tazilah, namun akhirnya beliau keluar karena menganggap Mu’tazilah telah menyimpang dari ajaran Islam.

Golongan Asy’ariyah meyakini bahwa manusia punya kebebasan terbatas dalam kehendak dan punya kebebasan mutlak dalam berpikir. Namun, hanya Tuhan yang punya kekuasaan mutlak untuk menjadikan suatu tindakan itu terjadi. Manusia nggak punya kekuatan, dan kehendak manusia tunduk pada kehendak Tuhan.

Golongan ini juga percaya bahwa manusia nggak bisa sepenuhnya mampu memahami makna dari kebebasan dan keadilan, karena itu wilayah Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan punya hak untuk menentukan nasib seseorang baik atau buruk, memasukan ke surga atau ke neraka sesuai kehendak-Nya, meskipun hal itu mungkin dianggap nggak adil dalam pandangan manusia. Namun, semua yang dilakukan Tuhan adalah baik, tetapi banyak yang berada di luar pemahaman manusia.

Dari pandangan di atas mengenai konsep free will dan takdir, saya gak mau mengambil titik ekstrem dari pandangan Qadariyah maupun Jabariyah, saya meyakini yg ada di bagian pertengahan.

Saya punya kehendak bebas dalam lingkaran kehendak Tuhan. Tuhan memberi kita kebebasan untuk berkehendak, memilih, namun dalam batasan kehendak-Nya.

Belibet, maksudnya gimana si?

Mungkin kalian lupa. Di atas sana saya sudah menyuruh kalian untuk berhenti membaca tulisan ini, namun kalian milih untuk melanjutkan membaca sampe sejauh ini, itu artinya kalian punya kehendak bebas (free will). Namun, saat kalian berhenti di tengah tulisan karena suatu sebab, misal malah ketiduran, pinsan, dll. Itu di luar kehendak bebas kalian, determinis.

Saya tahu akan ada beberapa orang yg melanggar larangan saya tadi karena mereka punya kehendaknya sendiri. Makanya saya terus menulis. Kalo dipikir lebih jauh, mungkin larangan saya terkesan membatasi, padahal saya hanya gak mau orang bingung dengan tulisan saya.

Dalam kaitannya dengan kehendak Tuhan, saya berpikir bahwa Tuhan gak akan memaksakan segala sesuatu untuk terjadi tanpa ada andil dari kehendak dan tindakan manusia. Larangan Tuhan adalah kasih sayang untuk makhluk-Nya, namun akan ada manusia yang nggak patuh kepada-Nya.

Sebagai Pencipta, Tuhan pasti mengetahui apa yang akan dipilih oleh manusia, apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang telah terjadi sebelumnya, apa yang gak pernah terjadi, dan bagaimana suatu hal akan terjadi jika suatu hal terjadi sesuai noniliun (atau mungkin lebih dari tak terhingga dalam hitungan manusia) kondisi-kondisi apa yang telah “dituliskan” dalam Lauhul Mahfudz. Maha Suci Allah sebanyak apa yang telah Dia ciptakan.

Analogi liar saya: Bayangkan kamu seorang programmer hebat yg membuat program, pasti kamu akan maha tahu mengenai program yg kamu buat ketimbang orang lain. Bagaimana flowchart, algoritma, alur kerja program, design, dimensinya mau berapa, rolenya mau siapa aja, bagaimana perilaku user nantinya, mencatat log aktivitas user, bagaimana endingnya, jika user melakukan a, maka akan menjadi b, ada kondisi-kondisi super kompleks melebihi 100 milyar sel saraf otak yg ada di dalamnya dengan penuh percabangan, dan hal-hal kompleks lain yg gak bisa dibayangkan sepenuhnya oleh orang lain tentang program yg kamu buat.

Dalam pandangan agama, saya menyudahi di titik tersebut. Karena beberapa ulama menyarankan untuk “berhenti pada teks” (al-tawqif).

Ibnu Ḥajar, dalam Fatḥ al-Bārī , 11:477 berpendapat, “Dalam topik seperti takdir kita sebaiknya berpegang pada apa yang telah disampaikan dalam Kitab dan Sunnah tanpa terlalu banyak menggunakan analogi atau pemikiran logis. Barang siapa yg melangkah terlalu jauh dari panduan teks-teks (al-tawqif) akan jatuh dijurang kebingungan. Mereka gak akan menemukan jawaban yang memenuhi akal atau hatinya, karena takdir merupakan suatu misteri yang hanya Allah yang mengetahuinya.

“Alam semesta selalu menyimpan banyak misteri yg mungkin sebaiknya tetap menjadi misteri.”

Analisa rasional dan pertimbangan filosofis memang penting, namun kita sadar bahwa realitas Tuhan berada di luar batas kemampuan berpikir manusia bodoh seperti kita. Bukan berarti kita beriman dengan buta atau nggak kritis, melainkan lebih mengakui kerendahan hati di hadapan kebenaran yang Maha Ghaib.

Mukhalafatu lil Hawaditsi = Tuhan berbeda dengan makhluk yg diciptakannya.

Mungkin sampai di sini sudah cukup untuk yg nggak mau bingung lagi. Wallahu A’lam

** Disclaimer: Kalo tambah bingung setelah baca ini, saya rekomendasikan untuk bertanya langsung pada ahlinya. Tulisan hanya untuk mengingatkan pribadi sendiri di kemudian hari.

**

Bagi kalian yg masih candu dengan kebingungan, mari kita lanjut..

Free Will dalam Realita

Dulu, ilmuwan dan filosof percaya manusia bisa bebas memilih, seperti punya kendali atas dirinya sendiri.

Tapi masuk abad ke-18, ilmuwan mulai dilema setelah melakukan eksperimen otak melalui fMRI, mereka mulai berpikir bahwa manusia sebenarnya gak bebas. Karena hasil tes tersebut menunjukan, saat kita mengambil keputusan, beberapa detik sebelum kita mengambil keputusan tersebut, si otak kita sudah mengambil keputusan itu untuk kita.

Keputusan kita disebabkan oleh otak. Kebebasan kita hanya sebuah ilusi. Keputusan yg kita ambil seperti efek domino, menggambarkan bagaimana satu peristiwa memicu serangkaian peristiwa lain secara berurutan.

Tindakan manusia sebenarnya terkait erat dengan sebab-akibat yang telah ditetapkan sebelumnya di alam semesta, tanpa benar-benar memiliki kehendak bebas sejati.

Kemudian Di abad ke-20, ilmuwan menemukan teori mekanika kuantum, yang mengungkapkan fenomena ketidakdeterminisan dalam perilaku partikel-partikel subatom yg bergerak secara bebas.

Temuan ini memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebagian ilmuwan tetap meyakini determinisme, sementara yang lain mulai mempertimbangkan kemungkinan keberadaan kehendak bebas.

Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam pemahaman ilmiah tentang free will.

Jadi, apakah kehendak bebas itu ada? …


// Sumber Bacaan: