Kausalitas Al-Ghazali: Ketidakpastian & Kuantum
Ada yg lebih penting dari hanya sekedar menginginkan nomor 6 dari sebuah dadu, yaitu melempar dadu.
Tulisan ini mungkin akan sedikit menguras pikiran, kali ini membahas kausalitas menurut Imam Al-Ghazali dan Ibn Rusyd kemudian cocoklogi dengan sains: mekanika kuantum. Kalo mau lanjut, usahakan siapkan kopi, cari posisi nyaman serta fokuskan pikiran.
**
Mungkin kita sudah gak asing lagi dengan hukum kausalitas (sebab-akibat). Sebuah hukum yang menyatakan, bahwa segala sesuatu/akibat itu ada sebabnya. Hukum kausalitas pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles (384- 322 SM).
Contohnya: Sebab makan, orang kenyang. Sebab belajar, orang pintar. dll
Pandangan Kausalitas Al-Ghazali: Ketidakpastian⌗
Pada abad ke-11 Masehi, Al-Ghazali mengajukan beberapa argumen yang menentang pandangan para filsuf Yunani klasik, terutama Aristoteles dan pemikiran Neoplatonisme yang telah diadopsi oleh beberapa filosof Muslim sebelumnya seperti Al-farabi dan Ibnu Sina, mereka dianggap telah menyimpang dari islam.
Dalam kitab “Tahafut al-Falasifah” atau Kerancuan para Filsuf, ada 20 pandangan filsafat yg dikomentari oleh Al-Ghazali dan salah satu kritik yang diajukan adalah terkait pandangan tentang konsep kausalitas. Kita hanya akan fokus membahas tentang kausalitas (sebab-akibat) dalam tulisan ini.
Menurutnya, keterkaitan antara yang dianggap sebagai “sebab” dan “akibat” nggak bersifat mutlak. Gak ada kepastian dalam keduanya, baik pada apa yang disebut “sebab” maupun “akibat.” Gak ada pengikatan yg mutlak untuk memastikan satu hal mengakibatkan hal lainnya.
Contohnya: proses terjadinya kebakaran sebab pertemuan api dengan benda yang dapat terbakar, perasaan kenyang sebab makan, atau kesembuhan sebab minum obat, semuanya dilihat sebagai hasil dari kehendak Tuhan, bukan proses yang terjadi dengan sendirinya.
Al-Ghazali menyangkal pemikiran para filosof sebelumnya yang beranggapan bahwa sifat-sifat khusus pada alam (thabi’ah) berfungsi dengan sendirinya tanpa ada kaitan dengan Tuhan.
Bagi Al-Ghazali sejatinya kita gak bisa memastikan apakah kertas yg disentuh api selalu terbakar, kita berpikiran seperti itu hanya karena sering melihatnya (kebiasan). Bagaimana mungkin api sebagai benda mati dapat membakar kertas dengan kehendak api itu sendiri.
Lalu, apa yang menyebabkan terbakarnya kertas itu? Menurut Al-Ghazali yg menyebabkan kertas itu terbakar adalah Tuhan, baik dengan sifat Ilmu, Irādah, dan Qudrah-Nya (Idea of Occasionalism).
Dalam hal ini Al-Ghazali bermaksud untuk mempertahankan hubungan alam yang imanen di satu sisi dengan Tuhan yang transenden pada sisi yang lain. Dengan demikian sifat Tuhan sebagai pencipta akan selalu tampak dan proses penciptaan terus berlanjut tanpa henti dalam kehidupan.
Al-Ghazali gak mengingkari prinsip kausalitas secara total. Beliau tetap mengakui adanya keterkaitan sebab dan akibat pada benda-benda yang ada di alam, ketetapan ini disebut sunatullah. Namun, semuanya terjadi bukanlah secara kebetulan dan spontan menurut kehendak dari benda-benda itu sendiri, sebagaimana anggapan kaum materialis atau naturalis.
Bagi pemikiran kita mungkin sudah jelas bahwa penyebab kertas itu terbakar adalah api, karena api memiliki sifat membakar. Namun, Al-Ghazali menafikan hal itu dengan tujuan agar bisa menjelaskan terjadinya mukjizat yang terjadi dari para nabi dan rasul.
Contoh kisah Nabi Ibrahim yang gak terbakar oleh api bisa kita pahami karena yang menyebabkan terbakar bukan oleh panasnya api, melainkan Tuhan. Menurut Al-Ghazali, Tuhan sangat mampu mengubah sifat api atau sifat Nabi Ibrahim dengan cara mengubah kadar sifatnya menjadi sesuatu yg bertolakan, sehingga api gak bisa membakar ibrahim dan nabi ibrahim gak akan merasa panas.
Al-Ghazali menganggap para filosof terduhulu mengingkari mukjizat yg terjadi pada para nabi dan rasul.
Perbuatan Manusia
Pandangan Al-Ghazali mengenai konsep kausalitas perbuatan manusia, sependapat dengan ajaran mutakallimin Asy’ariyah tentang kasb (upaya). Beliau berada di titik tengah antara dua titik ekstrem (free will & determinisme), suatu perwujudan sebuah perbuatan membutuhkan dua kekuatan, yakni kekuatan Tuhan juga kekuatan manusia. Namun, kekuatan yang sangat berpengaruh serta efektif dalam perbuatan adalah kekuatan dari Tuhan.
Misal ada penjahat berniat melakukan kejahatan. Sebab-sebab lain tersedia, misal butuh uang, maka penjahat itu memilih melakukan kejahatan. Di saat yang sama, Tuhan mengizinkan meski nggak ridho dengan apa yg manusia itu perbuat, lalu terjadilah proses kejahatan itu.
Penjahat bertanggung jawab atas perilaku kejahatannya dan setimpal dengan hukuman. Namun Tuhan sewaktu-waktu bisa mengintervensi bila menghendaki. Karena secara umum Tuhan akan memberi ijin adah (kebiasaan) terjadi sesuai hukum sebab-akibat. Namun, pada kondisi tertentu Tuhan melakukan intervensi sesuai kehendak bebasNya. Misal seperti yg dilakukan pada nabi Ibrahim tadi.
Dalam sebuah artikel berjudul tahafut al-falsifah li al-Ghazali, Ahmad Fuad al Ahwani mengatakan bahwa Imam Al-Ghazali mengakui bahwa benda-benda alami mempunyai keadaan atau sifat-sifat yang menjadi pembeda satu dengan yang lain. Akan tetapi itu semua dari segi ‘kemungkinan’ bukan ‘kepastian’ karena Tuhan yang menjadikannya dalam wujud demikian, dan Tuhan berkuasa mengubah sifat-sifat benda-benda yg ada di alam, jika Ia berkehendak. (Konteks ini akan menjadi pembahasan lanjut)
Pandangan Kausalitas Ibn Rusyd: Kepastian⌗
Pandangan Al-ghazali menjadi kontroversi selama berabad-abad, bahkan beliau dianggap menjadi sumber kemunduran dunia Islam dalam filsafat dan ilmu pengetahuan (sains), karena telah menumbuhkan sikap ‘pesimis’ dengan ‘ketidakpastian’ dalam sebab-akibat yg beliau berikan. Padahal kritik Al-Ghazali terhadap filsafat sebenarnya untuk membangun pemikiran kritis umat Islam. Bahkan sampe banyak filsuf barat yg terpengaruh oleh beliau, seperti Rene Descartes yg bilang “Aku berpikir, maka aku ada” untuk menjawab pertanyaan Al-Ghazali mengenai keterbatasan manusia menilai sesuatu.
Nah, salah satu bantahan yg akan dibahas di sini oleh Ibnu Rusyd, ia menulis kitab Tahafut al-Tahafut atau kerancuan dalam kerancuan untuk mengomentari sekaligus sanggahan kritiknya pada pandangan Al-Ghazali.
Dalam bukunya tersebut Ibn Rusyd menyatakan Al-Ghazali telah ‘salah’ dalam memahami maksud yang diinginkan para filosof yg mendahuluinya, Al-Farabi dan Ibn Sina, kemudian mereka (Al-Farabi dan Ibn Sina) pun telah melakukan kekeliruan dalam memahami pikiran-pikiran Aristoteles.
Tentang kausalitas, Ibnu Rusyd memiliki pandangan yang berbeda dengan Al-Ghazali. Ibn Rusyd berpendapat bahwa wujud yang baru (al-maujudat al-muhdatsah) mengandaikan adanya empat sebab: sebab efesien (fa’il), sebab materi (maddah), sebab bentuk (shurah), dan sebab tujuan (ghayah). Keempat sebab tersebut bersifat pasti dalam membentuk dan melahirkan akibat.
Ibnu Rusyd berkomentar bahwa alam semesta beroperasi berdasarkan hukum alam yang berlaku secara konsisten, dan peristiwa-peristiwa alam memiliki sebab-akibat yang dapat dipahami melalui akal dan pengamatan (sains).
Ibn Rusyd juga meyakini bahwa alam diciptakan Tuhan dengan lengkap beserta hukum-hukumnya. Setiap benda di alam memiliki sifat-sifat khusus yang bersifat pasti. Ini menunjukkan keyakinan bahwa alam memiliki hukum alam yang ditentukan, sifat-sifat yang unik ini dapat dipelajari melalui penelitian (scientific).
Ibn Rusyd membela para filosof terdahulu dari tuduhan Al-Ghazali yang menyatakan bahwa para filosof gak mempercayai mukjizat yang terjadi pada para nabi dan rasul.
Beliau berpendapat bahwa para filosof sebenarnya gak pernah menolak mukjizat yang terjadi pada para nabi dan rasul. Bagi para filosof, mukjizat bukanlah subjek perdebatan, terutama dalam masalah yang menjadi prinsip-prinsip dasar syari’at. Mereka menganggap bahwa untuk membahas hal tersebut, diperlukan etika dan kesantunan yang tinggi.
Ibn Rusyd sependapat bahwa orang yang mengingkari mukjizat dianggap sebagai zindik (orang yang menolak keyakinan agama). Prinsip-prinsip dasar syari’at adalah hal yang pasti, setiap orang harus menerimanya tanpa perlu membahasnya atau mempertanyakan. Beliau juga menekankan bahwa prinsip-prinsip dan dasar-dasar syari’at termasuk ke dalam masalah-masalah ketuhanan yang melebihi pemahaman akal manusia.
Oleh karena itu, manusia harus menerima tanpa harus memahami sebab-sebabnya. Karena saking pentingnya prinsip-prinsip ini, generasi sebelumnya gak membicarakan mukjizat, meluaskannya, atau menjelaskannya, karena mukjizat merupakan dasar untuk menetapkan dan mengukuhkan syari’at yg merupakan prinsip utama.
Ibnu Rusyd memberi perumpamaan dengan dua orang dokter, dokter satu menyembuhkan orang sakit untuk menunjukkan bahwa ia seorang dokter. Sedangkan dokter kedua, menunjukkan bahwa ia dapat berjalan di atas air, atau berbuat yang keluar dari kebiasaan yg disebut mukjizat, hal ini bukanlah prinsip utama untuk menunjukan bahwa ia seorang dokter.
Selanjutnya, Ibn Rusyd mengomentari hukum kausalitas dan konsep “sebab” pada proses terbakarnya kertas oleh api, beliau menjelaskan bahwa jika yang pertama (Allah) dapat menyebabkan terjadinya kebakaran tanpa perantara (api), maka keyakinan semacam itu akan menolak prinsip pancaindera (logika) dalam memahami kausalitas.
Para filosof gak meragukan bahwa pembakaran terjadi saat kertas terkena api, yang menjadi permasalahan adalah apakah ada faktor lain yg berfungsi sebagai pemisah atau perantara antara pelaku kejadian dengan api.
Ibn Rusyd menolak argumen Al-Ghazali yang menyatakan bahwa para filosof sebelumnya gak mempercayai mukjizat yang terjadi pada para nabi. Ia mengklarifikasi bahwa para filosof sebenarnya menerima (dengan logis) adanya mukjizat yg terjadi pada nabi, seperti contohnya mukjizat yang terjadi pada Nabi Ibrahim yang gak terbakar oleh api.
Ibn Rusyd menjelaskan bahwa dalam beberapa situasi, “akibat” dari suatu peristiwa bisa saja berbeda dari yang biasanya terjadi, tergantung pada adanya faktor penghambat pada “sebab.” Faktor ini berasal dari luar yg dapat mengubah hasil yang biasanya terjadi.
Sebagai contoh, jika tubuh seseorang dilapisi dengan bahan atau materi yang tahan terhadap api, maka materi tersebut akan menghambat pengaruh api, sehingga tubuh gak bisa terbakar. Pada contoh mukjizat nabi ibrahim, menurut Ibn Ruysd sebelum Ibrahim dibakar, tubuhnya mungkin telah diolesi dengan sesuatu yang mencegah api membakarnya sehingga gak terbakar.
Inilah yang menjadi bagian dari hikmah atau tujuan dari pengetahuan, manusia dituntut untuk terus menjelajahi rahasia alam yang belum terungkap.
Dalam hal ini Ibn Rusyd menekankan bahwa sifat suatu objek, seperti api, gak akan berubah menjadi dingin selama objek tersebut masih disebut sebagai api. Demikian pula dengan objek lainnya, karakteristiknya akan tetap sesuai dengan sifat yang dimilikinya. Dengan kata lain, sifat alam tetap pasti dan gak berubah secara tiba-tiba, kecuali ada faktor yang menghambatnya.
Walaupun pandangan Al-Ghazali mendapat tuduhan telah membunuh filsafat dan ilmu pengetahuan (sains), kenyatannya setelah beliau wafat muncul banyak filsuf dan aliran filsafat yg lebih islami. Namun memang, sains di dunia islam tertinggal, hal ini bukan semata-mata karena Al-Ghazali, faktor utamnya adalah karena setelah beliau wafat banyak ulama mengambil kehati-hatian sehingga filsafat diharamkan, padahal Al-Ghazali hanya mengkritik (menaturalisasi).
Kemudian Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai Averroes dalam literatur Barat, seorang filsuf dan cendekiawan Muslim yang hidup pada abad ke-12 setelah al-ghazali wafat, pandangan filosofisnya juga memiliki dampak besar pada perkembangan pemikiran Eropa dan sebagian dunia Islam.
Pandangan Sains: Keanehan Realita⌗
Dalam beberapa tahun terakhir, teori mekanika kuantum sering dikaitkan dengan konsep teori kausalitas yang diperkenalkan oleh Imam Al-Ghazali dalam karyanya Al-Iqtishād fīl I’tiqād dan Tahāfutul Falāsifah pada abad ke-12.
Peneliti dan fisikawan telah mencatat ada kesamaan antara pemikiran Al-Ghazali pada waktu abad ke-12 dengan konsep mekanika kuantum yang muncul pada abad ke-20.
Meskipun perbedaan waktunya cukup jauh, namun ada hubungan yang menarik antara keduanya. Salah satu konsep penting yang menjadi kesamaan utama dalam kedua paradigma ini adalah konsep ketidakpastian dalam teori kausalitas.
Konsep ini terlihat dalam berbagai fenomena alam, sifat objek fisika, dan sejauh mana pergerakan objek itu gak dapat diramal dengan pasti (determinism and non-determinism behavior). Hanya dapat diprediksi kemungkinannya.
Bagi yg udah paham apa itu mekanika kuantum, sejarah dan cara kerjanya, mungkin akan mudah mencerna tulisan ini.
Apa itu mekanika kuantum?
Mekanika kuantum adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari hal-hal yg sangat kecil, sehingga gak bisa dilihat dengan mata kita. Mekanika kuantum mempelajari tentang perilaku partikel subatomik.
Kenapa disebut “kuantum” kayak kompor gas di rumah aja? Kita akan membahas sejarahnya dulu.
Ilmuwan zaman dahulu (Newton, Maxwell, dsb) menganggap cahaya sebagai sebuah gelombang. Untuk memahami apa itu gelombang, kita bayangkan menjatuhkan sebuah batu ke kolam yang tenang, maka akan muncul bulat terbentuk riak, itulah gelombang.

Gelombang memiliki perilaku unik. Semisal kalo kita lewatkan gelombang ke sebuah celah kecil (ilmuwan menyebutnya “single slit” atau “celah tunggal”), maka akan gelombang baru akan terbentuk dari lobang tersebut.

Peristiwa akan berbeda kalo kita lewatkan gelombang ke dua buah celah kecil yang berdempetan (jaraknya gak terlalu jauh). Ini disebut ilmuwan “double slit” atau “celah ganda”.

Pada kasus celah ganda, ada pola yang disebut “interferensi”. Dua gelombang baru akan terbentuk dan saling mempengaruhi, ada yang saling menguatkan, ada juga yang saling meniadakan (panah pada gambar di bawah ini merupakan pola interferensi). Kalo kita simpan sebuah layar yg menghadap ke gelombang celah ganda tersebut, maka pola interferensi itu akan tercetak di layar, seperti gambar berikut.

Hal ini pernah dibuktikan oleh ilmuwan bernama Thomas Young pada tahun 1801, ia memancarkan cahaya ke “celah ganda” dan diarahkan ke dinding, sehingga terlihat pola interferensi. Hal ini membuktikan bahwa cahaya mirip seperti riak air di kolam, sehingga ilmuwan menyimpulkan bahwa cahaya adalah gelombang.

Cahaya yang tadi kita anggap sebagai gelombang, ternyata memiliki sisi yang lebih rumit.
Pada tahun 1900, Max Planck membuat penemuan baru yang mengubah pemahaman ilmuwan tentang cahaya, sehingga membawa fisika ke teori kuantum. Konstanta Planck yang ditemukannya mengungkapkan bahwa cahaya sebenarnya terdiri dari paket-paket energi kecil yang disebut “quanta” .
Supaya lebih paham, analoginya seperti ini, anggap cahaya dari senter itu kayak air terjun. Kalo kita mandi di air terjun, energi itu seperti airnya, kita nggak bisa menangkapnya dengan tangan, tapi jelas efeknya terasa (tubuh kita jadi basah). Nah, ilmuwan menganggap energi cahaya adalah seperti air membasahi tubuh kita.
Tentu hal ini menjadi konsep aneh menurut beberapa ilmuwan. Mereka menganggap partikel dan gelombang sebagai dua konsep yang berlawanan, seperti kepala dan ekor dalam satu koin.
Lahirlah istilah “Dualisme Cahaya”. Artinya, cahaya bisa menjadi partikel atau gelombang, tergantung pada situasinya. Secara dasar, cahaya adalah partikel ketika dalam bentuk foton, tapi ketika foton tersebut berinteraksi dan berjumlah banyak, cahaya akan berperilaku seperti gelombang.
Namun, ada satu hal aneh lagi yang disembunyikan oleh cahaya. Cahaya seperti punya kesadaran, sehingga bisa memilih kapan akan menjadi partikel dan kapan akan menjadi gelombang. Ini menjadi satu misteri dalam dunia fisika yang masih belum sepenuhnya dipahami oleh banyak ilmuwan sampe sekarang.
**
MISTERI CAHAYA
DOUBLE SLIT EXPERIMENT
Ketika cahaya dilewatkan ke “celah ganda”, maka di layar akan tertangkap fenomena interferensi seperti gelombang. Hal ini terjadi karena cahaya merupakan kumpulan foton, sehingga ketika foton-foton itu saling berinteraksi maka cahaya akan berperilaku seperti gelombang.

Setelah ilmuwan tahu bahwa cahaya tersusun atas foton, mereka kepikiran untuk menembakkan foton satu demi satu menggunakan sebuah alat laser canggih (alat ini seperti pistol yang bisa menembakkan bola foton satu demi satu), kemudian mereka menembakkannya ke sebuah papan melewati “celah ganda” tadi.
Kalo udah jadi bola foton, harusnya seperti ini:

Kita bisa membayangkan kemungkinan bola yang ditembakkan akan menghantam papan (contoh: panah merah dan oranye) sehingga foton terpantul kembali. Namun, ada kemungkinan juga bola yang kita tembakkan bisa menyisip masuk ke dua lubang itu (contoh: panah biru dan ungu).
Dari perkiraan tersebut, kita bisa bayangkan yg terjadi pada layar hasil tembakan foton itu, harusnya hanya masuk ke lubang A dan B. Sehingga hanya ada dua tumpukan foton garis lurus seperti tanda panah A dan B.

Hal aneh, ternyata di layar tersebut hasilnya tetap terlihat pola interferensi seperti gelombang. Bagaimana cara kerjanya, harusnya kan sesuai bayangkan kita di atas karena ini sudah dicacah jadi bola foton yg ditembakkan.

Bagaimana foton yg ditembakan tersebut bisa nyasar ke X, Y, Z? Bahkan X yg harusnya mantul gak bisa nembus tembok, malah jadi bagian terang juga (inget ya kita ngomongin cahaya).
Di sini ilmuwan mulai pusing bagaimana foton yg berbentuk bola bisa menembus dinding penghalang A dan B. Akhirnya mereka kepikiran untuk memasang “mata-mata” berupa sensor yang ditaruh di depan papan sehingga mereka bisa melihat bagaimana cara foton yang ditembakkan itu bisa melewati lubang A atau B yg membentuk pola interferensi.
Dan setelah mengamatinya, hasilnya langsung berubah. Pola interferensi yang tadinya ada, kini hilang dan berubah menjadi seperti yg kita bayangankan tadi:

Loh kok bisa berubah, bukannya tadi sebelum disimpan sensor polanya seperti gelombang, sekarang malah seperti partikel.
Keputusan para ilmuwan untuk mengamati percobaan itu telah merubah perilaku foton, yg awalnya berperilaku sebagai gelombang menjadi partikel. Degan kata lain, keputusan atau kesadaran sang pengamat (dalam hal ini ilmuwan) mengubah hasil penelitian tersebut.
Hal ini jelas gak masuk akal, kalo kita analogikan sama kayak siswa baik di kelas ketika ada guru, namun pas guru gak ada, siswa itu jadi nakal. Emang foton punya kesadaran kayak manusia?
Walaupun percobaan ini terus dilakukan berjuta kali, hasilnya tetap sama. Para ilmuwan semakin penasaran kemudian memutuskan memodifikasi percobaan “celah ganda” tersebut.

Kalo di atas tadi sensornya diletakan sebelum lubang A dan B berada. Percobaan kali ini sensor diletakkan setelah lubang tersebut. Jadi si foton ini diamati setelah ia keluar entah dari lubang A dan B, bukan sebelumnya.
Namun hasilnya tetap sama, pola interferensi gak terlihat dan yang terlihat hanya pola partikel biasa. Mau ditaruh di depan atau belakang, partikel foton seakan tahu bahwa ia sedang diamati.
Merasa gak puas dengan penelitiannya, para ilmuwan mencoba menggunakan strategi baru yg disebut QUANTUM ERASER EXPERIMENT, dimana sensor tetap nyala, tapi mereka memasang alat tambahan lain yang disebut “quantum eraser”.
“Quantum eraser” ini bertujuan untuk menghapus informasi tentang celah mana yg foton lewati. Sehingga kalo ilmuwan memutuskan menyalakan “quantum eraser”, alat ini akan menghancurkan informasi yg diperoleh oleh sensor tersebut sebelum para ilmuwan bisa melihat hasilnya. Dengan kata lain, hasil amatan dari sensor itu diformat walaupun sensor itu tetap nyala.
Hasilnya pola interferensi terlihat lagi.

Hasil ini menunjukkan sifat aneh si partikel, di mana tindakan pengamatan atau penghapusan informasi dapat memengaruhi perilaku foton, walaupun sensor tetap nyala, tapi si foton tahu bahwa jalur informasinya udah dihapus, jadilah dia gelombang.
Si partikel bukan hanya mengetahui apakah ada sensor atau nggak, tapi ia juga bisa tahu “niat” ilmuwan, kapan quantum eraser itu nyala atau mati, seakan-akan ia gak mau informasinya diketahui oleh ilmuwan.
Delayed Choice
Ada satu eksperimen lain yg diajukan oleh fisikawan John Wheeler, ia mengusulkan sebuah konsep menarik, yaitu bagaimana jika kita menggunakan cahaya dari bintang yang jaraknya jutaan atau bahkan milyaran tahun cahaya dari Bumi untuk menjalankan eksperimen “celah ganda”.
Sebelumnya, eksperimen “celah ganda” hanya menggunakan foton buatan mesin laser. Namun, Wheeler ingin mengajukan pertanyaan lebih jauh, bagaimana dengan cahaya alami yang berasal dari bintang yang sangat jauh, apakah akan berperilaku sama dalam eksperimen ini.

Jawabannya tetap sama. Secara umum, kalo foton dari bintang itu diperlakukan tanpa adanya pengamat, hasilnya berupa gelombang. Tapi kalo diamati pake sensor supaya kelihatan gimana cara ia melewati dinding, hasilnya berupa partikel.
Nah di sini ilmuwan merasa aneh. Keputusan atau sifat cahaya dari bintang untuk memutuskan sebagai gelombang atau partikel, seharusnya telah ada sejak awal, yaitu ketika cahaya itu pertama kali dihasilkan oleh bintang. Cahaya tersebut harusnya gak bisa berubah di tengah jalan, gak bisa berubah dari gelombang menjadi partikel saat tahu bahwa dia sedang diamati di Bumi.
Jadi kalo cahaya bintang akan diamati di Bumi pake sensor, maka sejak awal harusnya ia mengeluarkan foton-nya dalam bentuk partikel. Kemudian, kalo ia tahu bahwa ia akan dijadikan eksperimen di Bumi tanpa sensor, maka sejak awal ia harusnya dalam bentuk gelombang.
Di sini anehnya, perlu waktu jutaan tahun bagi sebuah bintang untuk cahayanya bisa sampai ke Bumi. Semisal jika bintang yang digunakan dalam percobaan Wheeler berjarak 10 juta tahun cahaya dari Bumi, maka butuh waktu 10 juta tahun bagi cahaya tersebut untuk melakukan perjalanan dari saat ia dihasilkan oleh bintang tersebut hingga sampai ke Bumi.
Keputusan atau sifat cahaya untuk menjadi partikel atau gelombang sepertinya telah ditentukan jutaan tahun sebelum eksperimen tersebut diadakan, bahkan mungkin sebelum manusia ada di Bumi. Karena gak mungkin dong keputusan foton dari bintang ke bumi jadi partikel, terus tiba-tiba balik lagi ke bintang mengubah keputusan untuk jadi gelombang karena ada sensor, atau mungkin foton lebih cepat dari kilatan cahaya jadi bisa bolak-balik dalam sekejap tanpa harus jutaan tahun cahaya?
Di sini kita mulai memahami anehnya cara kerja alam semesta, bahwa berbagai percobaan justru membuktikan bahwa benda sekecil partikel, penyusun terkecil alam semesta kita, tampaknya memiliki kesadaran, membaca pikiran, bahkan memutar kembali waktu jutaan tahun cahaya.
Bahkan hal ini juga berlaku bagi partikel yang berbeda, semisal elektron, neutron, proton, hasilnya tetap sama. Jadi fenomena ini gak hanya berlaku bagi foton saja, tapi pada semua partikel di alam semesta.
Kalo ini berlaku bagi semua partikel, apakah seluruh alam semesta ini sebenarnya memiliki kesadaran?
Relevansi Kausalitas al-Ghazali dengan Mekanika Kuantum⌗
Setelah melakukan eksperimen “Cosmic Interferometer” yg gak masuk akal, ilmuwan teoritis berspekulasi bahwa eksperimen tersebut telah mengobrak-abrik tatanan hukum alam yg sudah sedemikian anggun dan logis. Salah satu hukum alam (yang diamini oleh Ilmu Fisika) yaitu hukum kausalitas (sebab-akibat).
Hukum yg berbunyi bahwa sebab akan menimbulkan akibat. Kalo kita melakukan A, semisal makan, akibatnya B terjadi, kenyang. Namun hasil dari percobaan itu malah menunjukkan bahwa “akibat” ternyata bisa menimbulkan “sebab”. Masa lalu ternyata disebabkan oleh masa depan. Konsep absurd ini disebut “retrocausality” atau “kausalitas terbalik”.
Interpretasi Copenhagen
Sekitar tahun 1925-1927, dua orang fisikawan di Universitas Copenhagen, Denmark yg bernama Niels Bohr dan asistennya, Werner Heisenberg, berusaha memecahkan rahasia di balik Mekanika Kuantum. Keduanya bersatu padu merumuskan “Interpretasi Copenhagen” untuk menjelaskan hasil dari eksperimen “celah ganda” yg telah saya jelaskan di atas.
Kita tahu dalam eksperimen “celah ganda”, cahaya berperilaku seperti gelombang apabila gak diamati. Kalo diamati, cahaya bakal berperilaku seperti partikel.
Mereka berpendapat bahwa penyebabnya adalah demikian:
Suatu sistem fisika (dalam hal ini foton, yakni partikel cahaya) gak memiliki sifat yang pasti sebelum diukur. Mekanika Kuantum hanya bisa memprediksi atau menebak kemungkinannya (“probabilitas-nya”). Barulah ketika diamati (dalam bentuk pengukuran), probabilitas itu “runtuh” menjadi hanya satu nilai yang didapatkan dari hasil pengukuran. Peristiwa ini disebut sebagai “runtuhnya fungsi gelombang” atau “wave function collapse”.
- Interpretasi Copenhagen, Prinsip ketidakpastian Heisenberg
Hampir selaras dengan pandangan Al-Ghazali pada abad ke-12
Penjelasnya:
Contoh kita punya kotak yang di dalamnya berisi sebuah partikel cahaya = foton.
Menurut Interpretasi Copenhagen, saat dalam kotak tertutup foton itu jadi gelombang, karena ada berbagai kemungkinan foton (yang ditandai dengan bola dengan garis). Hal ini disebut “superposisi”.

Nah pas kotak itu dibuka, atau ada sensor maka tiba-tiba seluruh fungsi gelombang di dalam kotak itu “runtuh”. Semua kemungkinan partikelnya tiba-tiba lenyap sehingga hanya menyisakan satu foton dengan letak yang sudah pasti (bola dengan garis tebal). Karena “runtuhnya fungsi gelombang” ini, sekarang foton berada dalam status partikel dan harus berperilaku seperti partikel ketika diamati.

Bagi otak para fisikawan lain, mendengar teori ini seperti mendengar teori konspirasi yang gak bisa dinalar oleh akal.
Salah satunya adalah Erwin Schrödinger, ia bahkan sampe mengusulkan eksperimen pikiran seperti ini:

Taruh seekor kucing di dalam sebuah kotak dengan peralatan rumit melibatkan bahan radioaktif, Geiger Counter, palu, dan botol kaca berisi sianida. Bahan radioaktif ini memiliki 50% kemungkinan mengeluarkan radiasi dan 50% kemungkinan gak mengeluarkan radiasi.
Kalo bahan radioaktif ini mengeluarkan radiasi, maka alat Geiger Counter akan menyala (alat ini berfungsi mengukur kadar radiasi) yang kemudian akan memicu sebuah palu memecahkan botol kaca berisi sianida. Akibatnya, kucing mati.
Namun, ada 50% kemungkinan bahwa bahan radioaktif itu gak menghasilkan radiasi, alat Geiger Counter gak nyala, jadi palu gak akan mecahin botol kaca yg berisi sianida, sehingga si kucingpun bisa selamat.
Kalo kita menerapkan Interpretasi Copenhagen dalam kasus ini, maka sebelum kotak itu dibuka dan diamati yang terjadi adalah: di dalam kotak itu terdapat dua kucing, satu hidup dan satu mati (sebab hanya ada dua kemungkinan, antara kucing itu mati atau hidup).
Begitu kotak itu dibuka, “fungsi gelombang” kucing itu runtuh dan meninggalkan hanya satu “posisi”, yakni semisal kucing itu mati.
Bagaimana jika menggunakan diri kita sendiri, dikurung dalam kotak seperti eksperimen tersebut, dengan kemungkinan 50% kita selamat dan 50% kita mati. Apakah kita akan melihat diri kita ada dua sebelum kotak dibuka?
Einstein gak suka dengan konsep “probabilitas” yang ditawarkan oleh Bohr dan Heinsenberg, sampe ia bilang ke mereka kalo “Tuhan gak lagi main dadu”, debat orang paling jenius dalam fisika pun terjadi. Einstein pengen kepastian, semantara yg lain menerima ketidakpastian.
Tentu, Einstein menyanggah teori tersebut dengan ilmiah dan saintifik, ia merasa Interpretasi Copenhagen “keliru” (seperti eksperimen pikiran “Kucing Schrodinger”), karena adanya “hidden variable” atau “variabel tersembunyi” yang masih belum ditemukan.
Dengan kata lain, ada yang “kurang” dari teori Bohr dan Heinsenberg, yang menyebabkan interpretasi mereka bisa diterapkan pada partikel, tapi gak bisa diterapkan pada kucing atau diri kita sendiri. Apakah karena berbeda gelombangnya, einstein memikirkan hal itu.
Meskipun Einstein menolak beberapa aspek teori kuantum, seperti prinsip ketidakpastian Heinsenberg atau konsep kemungkinan pada Interpretasi Copenhagen, pandangan tersebut gak memenangkan dukungan dari mayoritas fisikawan lain, dan teori kuantum dengan prinsip ketidakpastian tetap menjadi dasar dari fisika kuantum modern. Artinya, Logika Einstein kalah dalam hal kuantum yg gak masuk akal ini.
Kemungkinan
Salah satu inti dari Interpretasi Copenhagen yakni kemungkinan (probabilitas). Dalam mekanika kuantum gak ada yang namanya “probabilitas nol”, gak ada yang namanya “gak mungkin”. Segala hal mungkin, hanya saja probabilitasnya sangat kecil, hal ini disebut “quantum tunneling”.
Seperti yg saya kutip di atas: “Ada yg lebih penting dari hanya sekedar menginginkan nomor 6 dari sebuah dadu, yaitu melempar dadu."
Karena gak akan ada kemungkinan nol, kalo gak dapat 6 ya lumayan masih ada kemungkinan dapat nomor 1,2,3,4, atau 5.
Hal ini juga berlaku dalam kehidupan, saat kita ingin sukses dan giat berusaha, gak ada kata kemungkinan nol, yg ada hanya kemungkinan kecil (misal cuma dapat hikmahnya).
Dalam mekanika kuantum, partikel memiliki sifat probabilistik yang memungkinkan mereka untuk “melintasi” penghalang energi, meskipun itu seolah-olah gak mungkin dalam fisika klasik.

Misteri Cahaya⌗
Berawal dari cahaya, ilmuwan menemukan cabang baru dalam ilmu fisika yaitu mekanika kuantum yg penuh keanehan dan gk masuk akal. Kalo, kalian baca tulisan ini gak dipotong-potong, mungkin kalian mulai pusing, mungkin juga kalian paham.
Ada salah satu teori metafisik menarik dalam mekanika kuantum yaitu “ONE ELECTRON UNIVERSE”, sebuah gagasan dalam fisika teoretis yang diajukan oleh fisikawan John Wheeler pada tahun 1940. Gagasan ini menyatakan bahwa seluruh materi dan partikel subatom dalam alam semesta sebenarnya hanya merupakan manifestasi dari satu partikel dasar, yaitu elektron.
Seluruh materi yang ada di alam semesta ini terbuat dari atom, yang kemudian tersusun lagi atas proton, elektron, dan neutron. Jika semua elektron pada hakikatnya “esa”, maka elektron yang ada di atom tubuh kita, tubuh orang lain, hewan, tumbuhan, batu, sungai, gunung, planet, bintang, dan apapun di alam semesta ini (mungkin tubuh alien yang hidup di galaksi lain), sesungguhnya tersusun atas materi yang sama, yakni elektron yang “esa” tersebut.
Dan jika benar partikel memiliki kesadaran, maka elektron yang “esa” itu juga memiliki kesadaran. Berarti tiap elektron di seluruh jagad raya ini terhubung dalam sebuah “kesadaran kosmis yang tunggal”.
–
Nah untuk menerbangkan imajinasi kalian, ada sebuah pendapat dari buku Daqoiqul Akhbar tentang cahaya:
Telah datang di dalam khabar, sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur menciptakan sebuah pohon yang memiliki 4 cabang, kemudian Dia menamainya “Syajarutul Yakin (Pohon Keyakinan)”. Lalu Dia menciptakan Nur Muhammad di dalam tutup yang terbuat dari durr (mutiara) yang berwarna putih seperti burung merak. Allah meletakkannya di atas pohon itu, kemudian dia bertasbih di atas pohon itu selama 70.000 tahun.
Kemudian Allah menciptakan “Mir’atul Hayat (Cermin Kehidupan)” kemudian diletakkan di depan burung merak itu (Nur Muhammad). Ketika burung merak itu (Nur Muhammad) melihat di dalamnya, dia melihat sebaik-baik rupa dan seindah-indah bentuk, namun dia malu kepada Allah dan mengeluarkan keringat.
Kemudian terteteslah darinya 6 tetes,
Allah yang Maha Luhur menciptakan:
- Sahabat Abu Bakar ra dari tetes pertama,
- dari tetes kedua Allah menciptakan Sahabat Umar bin Khattab ra,
- dari tetes ketiga Allah menciptakan Sahabat Ustman bin Affan ra,
- dari tetes keempat Allah meciptakan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra,
- dari tetes kelima Allah meciptakan bunga mawar,
- dan dari tetes keenam Allah menciptakan beras.
Kemudian, Nur Muhammad sujud lima kali maka kelima sujudan itu menjadi kewajiban yang diwaktukan bagi kita, kemudian Allah yang Maha Luhur mewajibkan sholat 5 waktu kepada Nabi Muhammad dan umatnya.
Kemudian Allah yang Maha Luhur melihat nur itu di waktu yang lain, maka dia berkeringat karena malu kepada Allah yang Maha Luhur.
- Dari keringat yang menetes dari hidungnya, Allah menciptakan para malaikat.
- Dari keringat yang menetes dari wajahnya, Allah menciptakan Arsy, Kursy, Lauhul Mahfudh, Qolam, matahari, bulan, sinar matahari dan bulan, bintang-bintang, dan apapun yang ada di langit.
- Dari keringat yang menetes dari dadanya, Allah menciptakan para nabi, para rosul, para ulama’, para syuhada’, dan orang-orang yang sholeh.
- Dari keringat yang menetes dari punggungnya, Allah menciptakan Baitul Ma’mur, Ka’bah, Baitul Maqdis, dan tempat-tempat masjid di dunia.
- Dari keringat yang menetes dari kedua alisnya, Allah menciptakan umat Nabi Muhammad dari golongan mukminin, mukminat, muslimin, dan muslimat.
- Dari keringat yang menetes dari kedua telinganya, Allah menciptakan ruh-ruh orang Yahudi, orang Nasrani, orang Majusi (penyembah api), dan sebagainya termasuk orang-orang kafir, orang-orang yang ingkar, dan orang-orang munafik.
- Dari keringat yang menetes dari kedua kakinya, Allah menciptakan bumi dan seisinya mulai dari timur sampai barat.
Kemudian Allah yang Maha Luhur berkata kepada nur itu, “Lihatlah di depanmu, wahai Nur Muhammad !”. Lalu dia melihat di depannya ada nur, di belakangnya ada nur, di sisi kanannya ada nur, di sisi kirinya ada nur, dan mereka adalah Sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar bin Khattab, Sahabat Ustman bin Affan, dan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Kemudian nur itu bertasbih selama 70.000 tahun.
Allah menciptakan nur para nabi dari Nur Muhammad SAW. Kemudian Allah melihat nur itu, maka Allah menciptakan darinya ruh-ruh mereka yakni ruh-ruh para nabi dari tetes keringat Nur Muhammad SAW. Allah menciptakan ruh-ruh umat para nabi dari tetes keringat ruh para nabi mereka, yakni ruh-ruh setiap umat diciptakan dari tetes keringat ruh nabinya.
Dan diciptakan ruh-ruh orang-orang mukmin dari umat Nabi Muhammad dari tetes keringat Nabi Muhammad SAW, lalu ruh-ruh itu berkata, “Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah“.
Kemudian Allah menciptakan pelita yang terbuat dari batu mulia (batu akik) berwarna merah, yang bisa terlihat luarnya dari dalamnya. Kemudian Allah menciptakan bentuk fisik Nabi Muhammad SAW seperti bentuk fisiknya di dunia. Kemudian Allah meletakkan bentuk fisik itu di dalam pelita, maka dia berdiri di dalamnya seperti berdiri di dalam melaksanakan sholat. Kemudian ruh-ruh para nabi mengelilingi sekitar Nur Muhammad SAW, mereka bertasbih dan bertahlil selama 100.000 tahun.
Kemudian Allah yang Maha Luhur memerintahkan setiap ruh (yang ada) untuk melihat bentuk fisik Nabi Muhammad.
- Di antara mereka, orang yang melihat kepala Beliau maka jadilah ia kholifah dan penguasa di antara para makhluk.
- Di antara mereka, orang yang melihat kening Beliau maka jadilah ia seorang amir (pemimpin) yang adil.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua mata Beliau maka jadilah ia orang yang mampu menjaga Kalam Allah yang Maha Luhur.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua alis Beliau maka jadilah ia seorang yang ahli mengukir.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua telinga Beliau maka jadilah ia seorang yang suka mendengar dan menerima sesuatu.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua pipi Beliau maka jadilah ia seorang yang suka berbuat baik dan orang yang berakal (pandai).
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua bibir Beliau maka jadilah ia seorang menteri (patih).
- Di antara mereka, orang yang melihat hidung Beliau maka jadilah ia seorang hakim, dokter, dan orang yang tajam akalnya.
- Di antara mereka, orang yang melihat mulut Beliau maka jadilah ia ahli berpuasa.
- Di antara mereka, orang yang melihat gigi Beliau maka jadilah ia seorang yang rupawan baik pria maupun wanita.
- Di antara mereka, orang yang melihat lisan Beliau maka jadilah seorang utusan (delegasi) di antara para penguasa.
- Di antara mereka, orang yang melihat tenggorokan Beliau maka jadilah ia seorang yang memberi pitutur, nasehat, dan muadzin.
- Di antara mereka, orang yang melihat jenggot Beliau maka jadilah ia berjuang di jalan Allah.
- Di antara mereka, orang yang melihat leher Beliau maka jadilah ia seorang pedagang.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua lengan Beliau maka jadilah ia tukang mengurus kuda dan tukang pedang.
- Di antara mereka, orang yang melihat lengan kanan Beliau maka jadilah ia tukang bekam.
- Di antara mereka, orang yang melihat lengan kiri Beliau maka jadilah ia seorang yang bodoh.
- Di antara mereka, orang yang melihat telapak tangan kanan Beliau maka jadilah ia seorang yang ahli dalam peruangan (masalah uang) dan orang yang ahli membordir.
- Di antara mereka, orang yang melihat telapak tangan kiri Beliau maka jadilah ia seorang yang ahli dalam takaran timbangan.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua tangan Beliau maka jadilah ia seorang yang dermawan dan seorang yang pandai.
- Di antara mereka, orang yang melihat tangan kiri Beliau maka jadilah ia seorang yang kikir (pelit).
- Di antara mereka, orang yang melihat tangan kanan Beliau maka jadilah ia seorang koki.
- Di antara mereka, orang yang melihat ujung jari-jari kiri Beliau maka jadilah ia seorang penulis.
- Di antara mereka, orang yang melihat jari-jari kanan Beliau maka jadilah ia seorang penjahit.
- Di antara mereka, orang yang melihat jari-jari kiri Beliau maka jadilah ia seorang pande (tukang besi).
- Di antara mereka, orang yang melihat dada Beliau maka jadilah ia seorang yang alim, seorang yang dimuliakan, dan seorang mujtahid.
- Di antara mereka, orang yang melihat kuku Beliau maka jadilah ia seorang yang tawadlu’ (sopan santun) dan seorang yang taat pada perintah syariat.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua lambung (daerah rusuk) Beliau maka jadilah ia seorang yang berperang.
- Di antara mereka, orang yang melihat perut Beliau maka jadilah ia seorang yang qona’ah (mampu menerima apa adanya) dan orang yang zuhud.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua lutut Beliau maka jadilah ia seorang ahli rukuk dan ahli sujud.
- Di antara mereka, orang yang melihat kedua kaki Beliau maka jadilah ia seorang yang pandai berburu.
- Di antara mereka, orang yang melihat di bawah kedua telapak kaki Beliau maka jadilah ia seorang suka berjalan.
- Di antara mereka, orang yang melihat bayang-bayang Beliau maka jadilah ia penyanyi dan ahli dalam memainkan gitar (atau sejenis rebab).
- Di antara mereka, orang yang tidak melihat apapun dari Beliau maka dia adalah orang Yahudi, orang Nasrani, orang kafir, atau orang Majusi (peyembah api).
- Di antara mereka, orang yang menatap apapun dari Beliau maka jadilah orang yang mengaku sebagai tuhan seperti kaum Fir’aun dan lainnya dari golongan orang-orang kafir.
(Ketahuilah) bahwa Allah yang Maha Luhur memerintahkan makhluk untuk melaksanakan sholat sesuai atas bentuk nama Ahmad dan Muhammad, maka berdiri seperti huruf alif, ruku’ seperti huruf kha’, sujud seperti huruf mim, dan duduk seperti huruf dal.
Dan Allah menciptakan makhluk (manusia) sesuai atas nama Nabi Muhammad SAW, maka kepala dibulatkan seperti huruf mim pertama, kedua tangan seperti huruf kha’, perut seperti huruf mim kedua, dan kedua kaki seperti huruf dal.
Dan seorang dari golongan orang-orang kafir tidak akan dibakar (di neraka, sedangkan ia tetap) pada bentuknya (bentuk manusia), tetapi bentuknya akan diganti pada bentuk babi kemudian baru dia akan dibakar di dalam neraka.
Wallahu a’lam bisshowab.
Sangat cocoklogi, atau memang cocok. Entahlah pikirkan sendiri
**
Sumber Bacaan:
- Keterbelakangan Islam
- The Soul’s Debate — Avicenna versus Al-Ghazali
- Belajar dari Perdebatan Ulama Besar
- Kritik Imam Al-Ghazali terhadap Para Filsuf
- Filsafat Kausalitas dalam Perspektif Al-Ghazali dan Hume
- hukum kausalitas: antara al-ghazali dan ibn rusyd
- Fisika Kuantum: Pemahaman dan 5 Fakta Menariknya
- Bohr–Einstein debates
- Mekanika kuantum
- Penciptaan Ruh yang Agung