“Jika Tuhan menciptakan dunia, perhatian utama-Nya tentu saja tidak membuat kita mudah dalam memahami-Nya.”

Albert Einstein (Letter about quantum physics to David Bohm)

Hari-hari riuh di tengah konflik perang Israel-Palestina, banyak orang yg saling mengeluarkan pendapatnya, mulai dari perdebatan sejarah, boikot, hukum perang, genosida, cap teroris, dsb. Perdebatan masalah itu sudah menjadi makanan sehari-hari selama sebulan lebih di dunia maya. Sebagian orang pro palestine, ada yg pro israel, ada yg netral, ada yg masa bodoh fokus ngurus kehidupannya sendiri.

Namun, salah satu pendapat paling nyentrik ketika seseorang menuliskan kurang lebih begini: “Banyaknya korban di Palestina menjadi bukti bahwa Tuhan itu gak ada. Kalau Tuhan ada, perang gak akan terjadi karena Tuhan akan merawatnya. Bumi akan damai sentosa. Menurut dia, Tuhan ada karena dibuat oleh tangan atau pikiran manusia. Semua ini terjadi sebab orang merasa kelompoknya paling istimewa menurut delusi mereka.” Entah dia sedang analysis paralysis, atau memang dia seorang atheis sehingga membuat kesimpulan seperti itu.

Bagi orang yang gemar filsafat dan ilmu fisika modern sudah gak aneh dengan pemikiran seperti itu. Ada banyak orang yg punya pemikiran bebas & radikal yg sering berbenturan dengan kepercayaan para pembacanya. Misalnya Albert Einstein, Stephan Hawking, Aristoteles, Nietzsche, dll.

Hawking

Hawking dalam buku God Created the Integers, menganggap Tuhan itu mungkin sebagai ‘prima causa’ alam semesta seperti pikiran Aristoteles. Tapi, peran Tuhan dalam menciptakan alam semesta hanya sekali saja pada babak pertama saat alam semesta dibuat. Setelah itu, Tuhan kemudian tak berbuat apa-apa. Alam kemudian berevolusi sebagai mana kodratnya atau mengikuti hukum alam.

Bagi Hawking semua hal rasional. Bahkan segala sesuatu yg terjadi sekalipun, itu juga sebagai konsekuensi hukum alam biasa. Tuhan hanya sekali berbuat di awal, setelah itu ‘menganggur’ dan membiarkan alam ini menjadi dirinya sendiri. Sikap tersebut tercermin saat Hawking ketemu Paus Johanes Paulus II di Vatikan. Kala itu Paus sempat meminta jangan terlalu rasional memikirkan penciptaan alam semesta. Saat ditegur seperti itu, Hawking yang sudah duduk di kursi roda menjawab justru dirinya baru memulai berpikir soal penciptaan alam semesta.

Sebelumnya dalam buku A Brief History of Time, ia juga menulis tentang pencarian teori pemersatu alam semesta: (Theory of Everything). Katanya: “Ini akan menjadi kemenangan tertinggi akal manusia - karena dengan demikian kita harus mengetahui pikiran Tuhan.”

Namun pada akhir hayatnya sama dengan pernyataan soal keberadaan Tuhan yang ditulis oleh seseorang di media sosial, Hawking juga menganggap secara sangat rasional Tuhan hanya sebagai ekpresi ketakutan manusia di hadapan kenyataan kegelapan alam semesta. Dia mencontohkan dengan banyaknya sosok Tuhan yang hadir dalam banyak budaya manusia dari beberapa abad sebelumnya (Pemikiran Hawking ini pernah di kritik oleh ilmuwan Indonesia ‘MR Crak’ Presiden Indonesia ke-3, BJ Habibe. Beliau mengatakan bahwa Hawking punya sikap yang arogan atau sombong karena merasa bisa menjawab segalanya dalam Brief Answers to the Big Questions)

Dalam salah satu buku yg ditulis Hawking, ia mengkaitkan dengan kepercayaan sebagian suku atau orang di dunia yang sempat menganggap matahari dan bulan sebagai Tuhan pencipta alam semesta. Tapi seiring berjalannya waktu kemudian mereka gak percaya lagi sebab ternyata bulan dan matahari mengalamai gerhana. Lalu mereka menganggap kedua benda langit itu bukan Tuhan karena punya masalah.

...*.

Einstein

Berbeda dengan pandangan jenius terdahulunya, Albert Einstein, ia punya filosofi sebaliknya. Dia berkeyakinan bahwa Tuhan gak sedang bermain dadu dengan alam semesta. Einstein meyakini bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara deterministik, artinya jika kita memiliki cukup informasi tentang suatu hal, maka kita seharusnya dapat memprediksi dengan akurat pergerakan dan perilaku hal tersebut tanpa adanya ketidakpastian.

Saat Max Born memutuskan teori baru mekanika kuantum sudah final dan semua harus menerimanya secara realitas, yaitu: berdetak secara acak dan gak pasti, seolah seperti dadu dilemparkan yg mempunyai probabilitas semua angka akan muncul, namun saat berhenti pada superposisi akan memunculkan satu kemungkinan angka saja. Dan dalam keadaan tertentu, kita mungkin mendapatkan kemungkinan angka lain.

Hal tersebut gak sejalan sama filosofis Albert Eintein sehingga ia sempat menolaknya dengan berkata, “God does not play dice with the universe.

Bagaimana perjalanan Einstein memahami Tuhan?

Hermann dan Pauline Einstein, orang tua Albert Einstein, adalah orang Yahudi Ashkenazi yang gak begitu taat. Meskipun orang tuanya lebih cenderung pada pemikiran sekuler. Einstein yang waktu itu baru berusia 9 tahun dengan bersemangat belajar Yudaisme. Untuk sementara waktu, ia menjadi seorang pemeluk agama Yahudi yang patuh.

Sesuai tradisi Yahudi, orang tua Albert mengundang seorang sarjana miskin, Max Talmud (kemudian berganti nama menjadi Talmey), untuk makan bersama mereka setiap minggu. Dari Talmud, Einstein yang masih muda dan mudah dipengaruhi belajar tentang matematika dan sains. Einstein mampu membaca seluruh 21 jilid Buku Populer tentang Ilmu Pengetahuan Alam karya Aaron Bernstein pada usia muda 9 tahun.

Talmud kemudian membimbingnya ke karya Critique of Pure Reason (1781) karya Immanuel Kant. Dari situ, Einstein tertarik pada filsafat David Hume. Meskipun demikian, perjalanan intelektualnya mengungkap konflik antara sains dan agama. Pada usia 12 tahun, Einstein memberontak dan mengembangkan keengganan mendalam terhadap dogma agama yang terorganisir sepanjang hidupnya, termasuk segala bentuk otoritarianisme dan ateisme dogmatis.

Adanya asupan pemikiran semenjak muda dari filosofi empiris ternyata membuat Einstein memahami dengan baik sekitar 14 tahun kemudian. Filsafat empiris yang dianutnya menjadi landasan bagi Einstein, terutama penolakan Ernst Mach terhadap gagasan ruang dan waktu absolut membantu membentuk Teori Relativitas Khusus (persamaan E=MC²) Einstein, yang dirumuskan pada tahun 1905 saat Albert bekerja di Kantor Paten Swiss di Bern.

Sepuluh tahun kemudian, Einstein menyelesaikan transformasi konsep ruang dan waktu melalui Teori Relativitas Umumnya, di mana gaya gravitasi Newton digantikan oleh lengkungan ruang-waktu.

Semakin tua (dan bijaksana), Einstein mulai menolak pendekatan Mach yang sangat empiris, dia pernah menyatakan bahwa ‘Mach pandai dalam bidang mekanika, namun buruk dalam bidang filsafat.’

...*.

Surat Einstein

Seiring berjalannya waktu, Einstein mengalami pergeseran ke arah pandangan yang lebih realistis. Dia cenderung menerima teori ilmiah sebagai representasi ‘benar’ dari realitas fisik objektif. Meskipun gak terikat pada agama, keyakinan pada Tuhan yang dimulai dari pengalaman singkatnya dengan Yudaisme menjadi dasar filosofinya.

Ini tercermin, ketika dimintai penjelasan tentang pendekatan realisnya, Einstein menyatakan, “Saya tidak punya istilah yang lebih baik daripada ‘religius’ untuk keyakinan pada karakter realitas yg rasional dan bahwa realitas dapat diakses, setidaknya pada batas tertentu, oleh akal manusia.”

Namun, Tuhan yang diyakini oleh Einstein adalah Tuhan dalam konteks filsafat, bukan agama. Ketika ditanya apakah dia percaya pada Tuhan bertahun-tahun berikutnya, jawabannya adalah, “Saya percaya pada Tuhan Spinoza, yang mengungkapkan dirinya dalam keharmonisan yang sah dari semua yang ada, tetapi tidak pada Tuhan yang peduli pada nasib dan perbuatan umat manusia.”

Spinoza hidup sezaman dengan Isaac Newton dan Gottfried Leibniz, menganggap Tuhan identik dengan alam. Karena hal ini, ia dianggap sesat yang berbahaya, kemudian dikucilkan dari komunitas Yahudi di Amsterdam.

Tuhan bagi Eintein jauh lebih unggul, impersonal, tak terlihat dan tak berwujud, halus dan gak berbahaya. Tuhan yang ia yakini juga sangat deterministik. Bagi Einstein, ‘keselarasan yang sah’ Tuhan terwujud di seluruh kosmos melalui ketaatan yang ketat pada prinsip fisika sebab dan akibat (Hukum Kausalitas).

Oleh karena itu, gak ada tempat bagi kehendak bebas dalam pandangan Einstein: “Segala sesuatu ditentukan, baik awal maupun akhir, oleh kekuatan yang gak dapat dikendalikan… kita semua menari dengan irama yang misterius, dilantunkan dari kejauhan oleh pemain yang tak terlihat.”

Teori relativitas khusus dan umum yang dicetuskan oleh Einstein memberikan pandangan radikal baru tentang ruang, waktu, dan interaksi mereka dengan materi dan energi. Teori-teori ini sepenuhnya konsisten dengan ‘keselarasan yang sah’ yang diyakini oleh Einstein.

Namun, muncul teori baru mekanika kuantum, yang juga dibantu oleh Einstein pada tahun 1905, menceritakan kisah yang berbeda. Mekanika kuantum membahas interaksi materi dan radiasi pada skala atom dan molekul, dengan latar belakang ruang dan waktu yang pasif.

Pada tahun 1926, fisikawan Austria, Erwin Schrödinger, secara radikal mengubah teori ini dengan merumuskannya dalam istilah ‘fungsi gelombang’ yang agak kabur. Schrödinger sendiri melihatnya secara realistis sebagai deskripsi ‘gelombang materi’ dengan mengajukan eksperimen pikiran, Kucing Schrödinger yg terkenal itu.

Namun, ada konsensus bahwa representasi kuantum gak boleh diinterpretasikan secara harfiah, pendekatan yang digagas oleh fisikawan Niels Bohr dari Denmark dan Werner Heisenberg dari Jerman dalam Interpretasi Copenhagen. Intinya, Bohr dan Heisenberg berpendapat bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya dapat mengatasi masalah konseptual dalam deskripsi realitas yang telah lama diperdebatkan oleh para filsuf selama berabad-abad.

Bohr menyatakan, “Tidak ada dunia kuantum. Yang ada hanyalah deskripsi fisika kuantum abstrak. Salah jika kita berpikir bahwa tugas fisika adalah mencari tahu bagaimana keadaan alam. Fisika berkaitan dengan apa yang dapat kita katakan tentang alam.” Pernyataan yg memiliki nuansa positivis samar-samar ini juga diperkuat oleh Heisenberg: “[Kita] harus ingat bahwa apa yang kita amati bukanlah alam itu sendiri, melainkan alam yang terpapar pada metode pertanyaan kita.”

Interpretasi dari ilmuwan dari Copenhagen yang sangat antirealis – menyangkal bahwa fungsi gelombang mewakili keadaan fisik nyata dari sistem kuantum – dengan cepat menjadi cara berpikir dominan tentang mekanika kuantum. Variasi interpretasi antirealis yang lebih baru menunjukkan bahwa fungsi gelombang hanyalah cara ‘mengkodekan’ pengalaman kita, atau keyakinan subjektif kita yang berasal dari pengalaman fisika, sehingga memungkinkan kita menggunakan apa yang telah kita pelajari di masa lalu untuk memprediksi masa depan. .

Pandangan ini berseberangan dengan filosofi Einstein. Dia gak bisa terima sepenuhnya interpretasi tersebut karena tetap percaya bahwa objek utama representasi - fungsi gelombang - tidak ‘nyata’. Einstein juga gak terima jika Tuhannya akan membiarkan ‘keharmonisan sah’ terurai sepenuhnya pada skala atom, membawa pada ketidakpastian hukum, dengan dampak yang gak dapat diprediksi sepenuhnya dan gak jelas faktor penyebabnya.

Dengan demikian panggung ini menjadi perdebatan paling luar biasa dalam sejarah sains, terutama saat Bohr dan Einstein saling bertentangan langsung dalam interpretasi mekanika kuantum di Solvay Conference, tahun 1927.

Ini adalah pertarungan antara dua filsafat, dua pandangan metafisik yang bertentangan tentang hakikat realitas dan harapan kita terhadap representasi ilmiah tentang hal tersebut. Perdebatan dimulai pada tahun 1927, namun meskipun kedua tokoh utamanya telah tiada, perdebatan ini masih terus berlanjut dan belum terselesaikan sampai kini (Free Will vs Deterministik).

Akhirnya, kita akan terkejut dengan hal ini. Pada bulan Februari 1954, hanya 14 bulan sebelum Einstein meninggal, ia menulis dalam suratnya kepada fisikawan Amerika David Bohm. Kata Enstein dalam surat itu demikian: ‘Jika Tuhan menciptakan dunia, perhatian utama-Nya tentu saja tidak membuat kita mudah dalam memahami-Nya.


Kalo kamu lagi ngerasa bingung dengan kehidupan, entah karena soal percintaan, pekerjaan, jati diri, kepercayaan, dsb. Tenang, kamu gak sendiri kok. Miliaran orang sedang memikirkan kebingungannya dari kehidupan penuh tanda tanya ini.

. Terkait:

Sumber Wawasan:

Obrolan Jam 12:34 Wib bikin tenang

1=Tuhan, 234=Rakaat