Menjinakan Impulsif
Dalam mengambil keputusan, kadang kita gak cuma butuh intuisi, firasat atau insting saja. Karena kalo hanya mengandalkan hal tersebut, kemungkinan besar dalam beberapa kondisi keputusan kita menjadi impulsif.
Impulsif cenderung bertindak berdasarkan kemauan, tanpa berpikir atau pertimbangan matang. Misal saat mengatakan sesuatu secara sembarangan, saat menyimpulkan sesuatu, menilai sesuatu, memprediksi sesuatu, dll.
Dulu saya mengira kalo perilaku impulsif yg saya lakukan didorong oleh firasat, insting dan instuisi, sehingga saya saya mengklaim sebagai seorang intuitif. Namun setelah membaca beberapa artikel dan jurnal yg membahas hal demikian, ternyata saya salah, perilaku intuitif sangat berbeda dengan impulsif.
Impulsif didorong oleh ego atau respon emosional. Sedangkan intuisi, firasat, dan insting masing-masing mereka didorong oleh berbagai faktor seperti: pengalaman, pola, pengetahuan, naluri alamiah atau sensitivitas yg abstrak dari dalam diri kita yg sulit dijelaskan. Intuisi, firasat dan insting muncul saat tak terduga, alias gk selalu datang saat kita undang.
Dari semua pengambilan keputusan cepat tanpa proses berpikir (impulsif, intuisi, firasat, dan insting). Impulsif ini adalah satu jenis yg paling bahaya karena resiko kesalahannya cukup besar. Oleh karena itu, kadang kita membutuhkan logika untuk mengatasinya, supaya gak melenceng jauh.
**
Nah untuk mengecek seberapa impulsif kita mengambil keputusan, saya membawa sebuah kasus dari buku “Judgment Under Uncertainty” karya Amos Tversky dan Daniel Kahneman.
Dalam buku ini kita ditantang untuk menentukan ‘kemungkinan besar’ dari contoh berikut:
Linda berusia 31 tahun, lajang, blak-blakan, dan sangat cerdas. Dia mengambil jurusan filsafat. Sebagai seorang mahasiswa, ia sangat prihatin dengan isu-isu diskriminasi dan keadilan sosial, dan juga berpartisipasi dalam demonstrasi anti-nuklir.
Pertanyaan: Manakah dari pernyataan berikut yang lebih mungkin?
- Linda adalah seorang teller bank.
- Linda adalah seorang teller bank dan aktif dalam gerakan feminis.
Kalo menjawab nomor (2. Linda adalah seorang teller bank dan aktif dalam gerakan feminis.) kemungkinan masih mendengarkan bisikan hati (impulsif/intuisi) untuk menjawab, sehingga menyangka jawaban nomor 2 lebih masuk akal.
Tapi gpp, di sini mungkin kita masih belum paham maksud dari tes ini. Kita harus menggunakan logika dan mengesampingkan pesan apapun dari hati.
Kasus versi lain:
Tio sedang gabut saat pulang sekolah. Rumah Tio terletak di sebelah kiri jalan, sementara rumah temannya yang bisa menghibur kegabutan Tio terletak di seberang jalan yang berlawanan arah dengan rumahnya.
Pertanyaan: Manakah dari pernyataan berikut yang lebih mungkin?
- Tio akan mengunjungi rumah temannya yang bisa menghibur kegabutan dan Tio akan pulang ke rumahnya sendiri.
- Tio akan mengunjungi rumah temannya yang bisa mengusir kegabutan.
Dalam contoh ini, kita mungkin akan memilih pilihan 1. karena mencakup informasi tambahan bahwa “Tio akan mengunjungi rumah temannya yang bisa menghibur kegabutan dan Tio akan ke rumahnya Tio”.
Secara probabilitas, kemungkinan pernyataan nomor 2 lebih tinggi daripada kemungkinan nomor 1.
Contoh ini adalah “conjunction fallacy” di mana orang sering memilih pernyataan yang lebih rinci meskipun kemungkinannya lebih kecil dari segi probabilitas.
Kecil kemungkinan Tio mengunjungi rumah temannya sekaligus Tio pulang ke rumahnya sendiri.

Kalo masih bingung, bayangkan kamu sedang makan. Mungkin kah kamu sering memasukan makanan & minuman sekaligus ke mulut? Pasti lebih mungkin kalo memasukan salah satunya.
Inilah alasan kita harus menjinakan impulsif supaya nggak menipu dalam mengambil keputusan. Sebaik apapun intuisi kita, dalam pengambilan keputusan yg serius kita membutuhkan nalar.
// Bacaan Lanjutan: