Seberapa empati kita melihat penderitaan orang lain?

Halo spons, bagaimana harimu, melelahkan? Istirahat gih, ditulisan ini saya hanya ingin membingungkan kalian. Dijamin, tambah lelah!

Tapi kalo mau maksa baca juga gpp, siapa tau gak jadi spons lagi. 😆

#***#

Orang waras sepakat kalo orang yg paling buruk mungkin adalah orang yg gak punya empati. Menari di atas penderitaan orang lain atau gk ikut merasakan rasa sakit orang lain.

Kalo kamu gimana, sepakat? …

Oke, saya juga sepakat, saya ingin masuk dalam bagian orang waras.

Tapi tahukah kamu kalo kompleksitas dalam pengambilan keputusan yg melibatkan empati itu kadang bikin empati itu sendiri menjadi sesuatu yg gak jelas atau ambigu.

Sobat Emotional Sponge

Sobat spons pasti merasakannya, karena orang yg dengan empati tinggi atau biasa disebut emotional sponge adalah orang yg paling menderita oleh empati itu sendiri.

Mereka mudah menyerap berbagai energi atau emosi dari lingkungan di sekitarnya. Mereka mampu merasakan seberapa dalam rasa sakit atau sedih seseorang. Terlebih, kalo mereka pernah mengalaminya sendiri.

Oleh karena itu, mereka mudah merasa frustrasi, mudah lelah secara fisik dan mental, mudah sedih, mudah cemas setelah menyerap emosi yang dirasakan orang lain. Lebih parah, mereka juga bisa ikut sakit serius setelah terjebak empati ini.

Manipulasi Empati

Kebanyakan mereka (sobat spons) juga orang yg mudah dimanipulasi oleh seseorang.

Saya ambil contoh dari kasus peminta-minta yang mengatasnamakan orang Palestina (Perbatasan Gaza) di mesjid Mekah dan Madinah.

Siapa yg gak akan empati ketika mendengar penderitaan orang jalur gaza. Mungkin orang yg dengan empati normal pun akan iba mendengarnya, apalagi orang dengan empati tinggi.

Saya pernah mengalaminya, dan sebagai seorang emotional sponge saya bisa merasakan rasa sakit yg dia ceritakan. Namun sepulang dari mesjid akhirnya muncul rasa curiga, dan mungkin orang lain juga. Makanya ada berita: https://sukoharjo.kemenag.go.id/penyelenggara-haji-dan-umroh/waspadai-peminta-minta-di-masjid-nabawi/

Pertanyaannya, apakah mereka asli orang Palestina atau hanya menjual kesedihan Palestina supaya orang lain berempati?

Gak perlu jauh-jauh ke negara orang lain dah, di negera kita sendiri aja banyak kasus manipulasi memanfaatkan empati orang: mulai dari live tiktok mandi lumpur nyuruh emak-emak, pengemis punya tabungan 1 M dan mobil mahal, dsb.

Lebih ekstrem, mereka yg memanipulasi empati orang lain menggunakan jalur kelekatan, setelah korban nyaman, korban benar-benar dimanfaatkan, bahkan ada yang sampe dibunuh.

Salah satu kasus beritanya: https://denpasar.kompas.com/read/2022/08/29/060000678/wanita-pegawai-bank-di-bali-dibunuh-pacar-mayat-dibuang-di-selokan-dan

Eh tunggu, mungkin berita di atas kurang pas dengan konteks manipulasi empati. Namun, biasanya para dark empath berpura-pura memiliki perasaan tertentu atau memanfaatkan empati orang lain untuk mencapai tujuan mereka.

Dark Empath

Dark Empath seseorang yg menggunakan kemampuan empatinya untuk memahami perasaan orang lain dengan tujuan mengeksploitasi emosi orang lain. Biasanya para manipulator.

Dulu saya pernah baca berita seorang TKW kesepian yg menjadi korban manipulator, uang tkw itu dikuras habis. Korban nyaman karena merasa pelaku berempati ke dia sehingga dengan mudah korban memberikan segalanya. Dan ternyata, jeng jeng jeng.. Orang itu adalah seorang napi yg sedang menipu.

Ini bukan berita yg pernah saya baca waktu dulu, tapi ini juga kasus dark empath: https://www.detik.com/jabar/hukum-dan-kriminal/d-6384387/kala-uang-hasil-tipu-tkw-dipamerkan-napi-di-lapas-cianjur

Saya harap bisa lebih berhati-hati dengan empati.

**

Atau mungkin kalian pernah didatangi baik-baik oleh orang yg pinjam uang, dia menceritakan kesedihan hidupnya. Kemudian pas kalian tagih karena sesuai janji malah berubah jadi galak ke kalian? menurut saya, ini juga manipulasi empati. 😆

Jadi gimana udah bingung belum dengan empati kamu sendiri?

Sebenarnya berempati itu baik atau buruk?


** *Disclaimer*: Ini nggak ilmiah, kalo mau referensi ilmiah kalian bisa cari artikel atau jurnalnya sendiri. Dan gak tau apakah benar atau salah juga, ini hanya pandangan pribadi sebagai seorang emotional sponge yg membenci emosinya sendiri.