Ini Akan Berlalu

Setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing, apalagi saat melibatkan perasaan. Saat kita sedang merasakan sesuatu, akan ada orang yg biasa aja, akan ada yg ikut merasakan, atau bahkan mungkin akan ada yg sampe ngatain lebay. Yap itulah perasaan, sesuatu yg sulit dipahami orang lain karena hanya orang yg merasakan yg mengerti, jadi subjektif.

Begitu juga kalo kita berhadapan dengan orang depresi. Mungkin di mata kita terlihat biasa saja. Tapi, beda dengan apa yg sedang mereka rasakan. Kalo ingin membuktikan, coba suruh orang depresi untuk semangat menjalani hidupnya atau ceramahi mereka seperti yg kita mau, yg ada, mungkin mereka akan tambah stress dan muram.

Tulisan ini juga akan beda feel-nya bagi tiap kita. Mungkin akan sangat menyentuh kalo sedang merasa depresi atau sudah pulih dari depresi, you will get something.

Saya akan menulis cerita dari Ajahn Brahm, semoga kalian mau membacanya juga:

**

Seorang baru saja mendapat tuduhan sehingga dihukum di penjara, dia dikurung dalam sel sendirian, merasa ketakukan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi seperti mencemooh segala belas kasihan; suara gelegar baja yg beradu saat gerbang ditutup, mengunci harapan indah masa depannya. Hatinya terpuruk sedalam hukuman lama yg ia terima.

Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipat yg berantakan, dia melihat sebuah kalimat yg tergores: INI PUN AKAN BERLALU

Kalimat itu berhasil melecut semangatnya yg sudah hilang, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Gak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya: INI PUN AKAN BERLALU.

Pada hari dia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktu kurungan telah terpenuhi, ia pun keluar dan bisa menghirup udara segar, setelah bertahun-tahun berdiam seorang diri di sel sempit.

Ketika dia menjalani kembali kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk ditaruh di samping tempat tidurnya, wallpaper hpnya, dan di tempat kerja.

Bahkan saat menghadapi hal-hal buruk lagi, dia langsung mengingat kata-kata, “Ini Pun Akan Berlalu,” dan terus berjuang sendirian. Dia merasa momen burukpun gak perlu waktu lama untuk berlalu.

Saat momen menyenangkan hidupnya datang, dia menikmatinya tapi gak terlalu sembrono seperti dulu. Lagi-lagi dia mengingat kata-kata, “Ini Pun Akan Berlalu,” dan lanjut melakukan hal yg bermanfaat lainnya, tanpa menggampangkan hal yg membuatnya senang itu. Dia tahu bahwa saat-saat indah juga biasanya gak akan bertahan lama.

Bahkan saat dia menderita sakit parah, kata-kata “ini pun akan berlalu” telah memberinya pengharapan. Harapan itu memberi dia kekuatan positif sehingga dapat mengalahkan penyakitnya. Dokter spesialisnya pun bilang, “Kanker pun telah berlalu”.

Beberapa tahun berlalu. Di hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia tetap memegang kata-kata itu bahkan saat mendekati mautnya, dia berbisik kepada keluarga dan istri tercintanya yg sedang menangis kalo “ini pun akan berlalu,” dan dengan ringan dia meninggal dunia.

Setelah beberapa hari, keluarga, istri dan teman-temannya menyadari kata-kata itu, dan belajar darinya bahwa “kesedihan pun akan berlalu”.

**

Depresi seperti sebuah penjara pikiran yg sering manusia alami. Mungkin kata-kata “ini pun akan berlalu” sedikit membantu melecutkan semangat supaya terhindar dari depresi berat, Stay strong, saat-saat berat akan berlalu.

Kata-kata “ini pun akan berlalu” juga akan mengingatkan kita yg kadang gak mensyukuri nikmat saat-saat bahagia.


.

.

Prasa “Ini Pun Akan Berlalu” merupakan sebuah peribahasa yang menunjukkan bahwa semua keadaan badaniyah, baik yang baik dan yang buruk, bersifat sementara. Ungkapan ini berasal dari tulisan-tulisan para penyair sufi Persia abad pertengahan yg diadopsi oleh banyak orang, contohnya penyair Inggris Edward Fitzgerald dan cerita di atas oleh Ajahn Brahm.

** Wikipedia: Ini pun akan berlalu