Debat dengan Ateis si Paling Rasional
Percaya, ateis gak serasional yang kita kira. Tadinya saya kira mereka menggunakan argumen “Saya gak percaya Tuhan, saya percaya pada sains dengan bukti ilmiah, ketimbang agama yg gak masuk akal.” Tapi kayaknya rasionalitas mereka terlalu dilebih-lebihkan.
Minggu yang lalu, saya nanya seorang yg ngaku ateis, dia ngejek kepercayaan orang bahkan di postingannya cenderung ngadu domba kepercayaan satu dengan yg lainnya.
Saya tanya, “Kenapa kamu sibuk ngurus kepercayaan orang lain yg menurut kamu gak masuk akal? Mending sibukin baca semua buku sains ketimbang ngadu domba gk berfaedah kek gini.”
“Suka-suka gue lah kok ngatur.” Balasnya
“Setidaknya biar gak ada ruang buat kamu ngurusin hal kayak gini, gak berfaedah.” Jawabku
“Lah berfaedah dong bikin orang mikir biar lu gak dibodohi dogma agama. Sekarang gue tanya, lu muslim ya? lu ngeklaim ada Tuhan? Bisa gak lu ngasih bukti ilmiah keberadaan Tuhan yg lu klaim ke gue?”
“Tuhan maha ghaib, gak bisa dibuktiin secara ilmiah. Emang kamu punya bukti ilmiah nyimpulin Tuhan gak ada?”
“Tinggal ngomong gak punya bukti susah amat, cuma kehaluan lu aja. Malah minta bukti sesuatu yg gak ada ke gue, cacat logika namanya.”
Jujur di sini saya mulai naik tensi dikatain cacat logika. Saya balas, “Tuhan gue maha halus, ghaib gak bisa dilihat jadi gak mungkin bisa dibuktiin secara saintifik, misal gue nyuruh lu megang angin yg gak keliatan tapi bisa dirasain, bisa gak kira-kira? Terus lu percaya aja kecepatan cahaya 299.792.458 meter per detik padahal belum lu buktiin sendiri kan?”
“Berarti kalo gue klaim ada naga ghaib yg selalu nemenin gue, terus gue anggap Tuhan sah dong?”
“Itu udah ranah subjektif, Mas. Bahkan kalo lu nganggap kepiting mati ghaib sebagai Tuhan, ya itu urusun lu, asal lu gak ngadu domba kepercayan orang lain aja, bikin ribut. Tapi gue percaya sama Tuhan yg nyiptain alam semesta ini dengan segala hukum alamnya, Dia penyebab utama yg pengatur semuanya, Dia gak bisa gue bayangkan karena tentu aja pencipta selalu beda dari apa yg Dia ciptakan.”
“Nggak usah bawa science deh. Coba bukti apa yang dibawa nabi lu, yang benar-benar MEMBUKTIKAN Tuhan secara ilmiah?”
“Hidup ini absurd, coba gue tanya kenapa lu ada di dunia ini? apa makna hidup lu di dunia ini? Jawaban lu sama gue bakal beda. Percuma gue jabarin juga gak bakal diterima karena lu mau yg valid sama logika lu doang kan? Mending lu cerna dalam-dalam kalimat ‘gue percaya sama Tuhan yg nyiptain alam semesta ini dengan segala hukum alamnya, Dia penyebab utama dan pengatur semuanya, Dia gak bisa gue bayangkan karena tentu aja pencipta selalu beda dari apa yg Dia ciptakan’ itu.”
“Cerna sendiri deh kalimat lu yg tiba-tiba lompat ke kesimpulan bahwa ada yg mengatur, tanpa ada bukti logis apa atau siapa yang mengatur… muter-muter, tanpa bukti lagi.”
“Gini aja deh. Coba lu bayangin programmer hebat membuat program bernama kehidupan, pasti dia beda sama apa yang dia buat, dia bakal maha tahu mengenai program yg dia buat ketimbang lu sama gue penggunanya. Bagaimana flowchart, algoritma, alur kerja program, design, dimensinya mau berapa, rolenya mau makhluk apa aja, bagaimana perilaku penggunanya, mencatat log aktivitas penggunanya, bagaimana endingnya, kalo pengguna melakukan a, maka akan menjadi b, c atau d, .., dengan kondisi-kondisi super kompleks melebihi 100 milyar sel saraf otak yg ada di dalamn program tersebut yg penuh percabangan, dan hal-hal kompleks lain yg gak bisa dibayangkan sepenuhnya oleh orang lain tentang program yg dia buat. Bisa gak kira-kira lu klaim instagram, facebook atau twitter ada dengan sendirinya tanpa ada yg nyiptain?”
“Beda lah kehidupan sama aplikasi. Kehidupan mulai ada setelah miliaran tahun dari terbentuknya Planet Bumi setelah ledakan big bang. Ada secara spontan dari ketiadaan, gak ada bukti ilmiah soal wujud Tuhan sampe hari ini.”
“Jadi, siapa yg menciptakan suhu panas dan materi pendukungnya sampe terjadi ledakan big bang sehingga mengembang menjadi alam semesta, kemudian ada planet tata surya? Mungkin kan yg ngaturnya ada di luar dimensi alam semesta kita jadi gak kelihatan sama makhluk seperti kita yg berada di dimensi bawahnya? Kalo lu berspekulasi yg nyiptain suhunya itu alien, terus yg nyiptain aliennya siapa? Kalo lu berspekulasi lagi yg nyiptain alien adalah naga kepiting, yg nyiptain naga kepiting siapa? dan yg terakhir Dia gk pernah diciptain, itu Tuhan.”
Gak ada balasan lagi..
Jadi, alasan teisme percaya Tuhan, sedangkan ateisme gak percaya Tuhan. Keduanya sama-sama alasan subjektif. Ateis yg modal dogma bukan karena dia benar-benar mengerti cara kerja alam semesta dan misteri kehidupan, gak jauh beda sama teisme yg modal dogma juga.
Debat Imam Abu Hanifah dengan Ateis⌗
Saya terinspirasi dari kisah debat Imam Abu Hanifah dengan Ateis yg ada dalam kitab Fath al-Majid karya Syekh Nawawi al-Jawi, Banten. Tapi dulu saya membacanya dari buku terjemahan Sangu Urip cetakan LirboyoPress karena gak pernah megang kitab Fath al-Majid.
Suatu hari Abu Hanifah debat dengan seorang raja ateis menggunakan jawaban logis. Kisah fullnya bisa baca di buku atau kitab yang sudah saya sebutkan di atas. Di sini saya akan menulis ringkas kisah perdebatannya:
“Mana ulama yang mampu menjawab pertanyaanku?” tantangnya
“Apa-apaan ini. Bertanyalah. Akulah orang yang akan menjawab pertanyaanmu,” Abu Hanifah memancing sang raja mengeluarkan pertanyaan yang sudah membungkam para ulama lain.
Abu hanifah sempat dihina karena waktu itu beliau masih muda sehingga raja itu merasa diremehkan.
“Apakah Allah itu ada?”
“Iya”
“Di mana dia?”
“Dia tidak memiliki tempat berdiam”
“Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat?”
“Buktinya ada di badanmu sendiri”
“Apa itu?”
“Apakah badanmu memiliki ruh?”
“Iya”
“Di mana ruhmu? Apakah di kepala, apakah di perut, atau bahkan di kakimu?”
Sang raja pun kebingungan. Ia tak bisa menjawab. Untuk kali pertama, ia harus bungkam di hadapan anak muda. Tetapi Abu Hanifah belum puas dengan dalilnya. Beliau kemudian meminta segelas susu.
“Apakah susu ini memiliki lemak?”
“Iya,” jawab sang raja
“Di mana tempat lemaknya? Di atas atau di bawahnya?”
Abu Hanifah lantas menimpali, “Sebagaimana ruh tak dijumpai tempatnya, sebagaimana juga susu tak diketahui tempat lemaknya, Allah tidak memiliki tempat di alam semesta.”
“Lalu apa yang ada sebelum Allah dan sesudahnya?” Tanya raja untuk kedua kalinya kepada Abu Hanifah
“Tidak ada sesuatu apapun di depan maupun di belakangnya”
“Bagaima mungkin tergambar di pikiranku, sesuatu tak memiliki awal dan akhir?”
“Ini dalilnya juga ada di badanmu”
“Apa itu?”
“Apa yang ada sebelum ibu jari dan sesudah jari kelingkingmu?”
“Tak ada apapun sebelum ibu jari dan setelah kelingkingku”
“Maka seperti itulah Allah. Tidak ada sesuatu di depan atau pun di belakangnya, sebelum maupun sesudahnya.”
. Imam Abu Hanifah selalu menginspirasi untuk berusaha berpikir rasional walaupun dalam praktiknya saya masih suka melakukan bias dan fallacy
.
Sebenarnya saya malu membahas agama dalam blog pribadi karena ilmu agama saya sedikit dan saya gak sebaik itu untuk bicara masalah agama.