Melawan Quarter Life Crisis
“Meski hidup itu sia-sia, jalani saja, dan jangan lakukan dua hal: kabur pada harapan indah di masa depan atau menyerah bunuh diri.”
Albert Camus - (La Peste)
Saat berada di fase Quarter Life Crisis, mungkin kita akan merasa terjebak dalam rutinitas kegalauan sehari-hari yg menjengkelkan, hidup terasa monoton nggak ada tujuan jelas. Ditambah muncul rasa cemas, bingung serta mudah khawatir akan ketidakpastian masa depan.
Hobi kita pun tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yg waktu kecil kita benci. Kalo nonton acara hafidz qur’an sama ibu, kita sering dibandingkan dengan hafidz yg lebih pinter.
Anehnya sekarang, dalam fase ini, kita sendiri yg malah candu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, layaknya sebuah hobi baru. Hobi yg menyedihkan.
Pergi berkeluh kesah kepada seseorang. Namun alih-alih mendapat pengertian yg menenangkan, adu nasib yang kita dapatkan. Lengkap sudah penderitaan.
Tapi jujur, tulisan ini juga gak bakal bikin kalian tenang. Saya akan menulis kisah seorang yg paling menyedihkan dalam menjalani hidupnya, mungkin sudah sering mendengarnya dan relate sama hidup kita.
Saya harap kalian mau membaca kisah singkatnya..
Kisah ini bermula dari cerita tentang seseorang yg menerima hukuman paling kejam yang pernah ditimpakan pada manusia.
*** Bayangkan.. Lihat gambar di atas
Seseorang harus mendorong batu besar ke atas puncak gunung tinggi. Setelah susah payah sampe di puncak, merasa lega sebentar, secara otomatis batu besar itu akan jatuh lagi menggelinding ke kaki bukit.
Ia pun harus segera turun lagi ke bawah untuk mendorong ulang batunya ke atas puncak gunung. Setelah letih sampe puncak, batu besar itu akan jatuh lagi dan lagi. Ia melakukan pekerjaan tersebut terus-menerus, berkali-kali tanpa boleh berhenti, untuk selamanya. Itulah hukuman untuk Sisifus.
Menyedihkan? Coba bandingkan dengan kehidupan kita sehari-hari.
Bangun pagi hari, siap-siap kuliah, kerja atau diem di rumah seharian sampai merasa lelah, main sebentar sama teman tongkrongan, pulang, tidur, esoknya ulangi lagi.
Kalau boleh dibilang, hidup kita sehari-hari tak lain seperti hukuman Sisyphus, monoton sampe mati.
Bukan hanya setiap hari, tiap bulan, tiap tahun, tapi sepanjang hidup. Semua manusia mendorong batunya masing-masing dan mengulanginya lagi terus menerus, monoton tanpa makna.
Essay The Myth of Sisyphus menggambarkan pola kehidupan monoton semua manusia, cerita populer ini karya seorang filsuf eksistensialis bernama Albert Camus. Ia menggambarkan kegiatan repetitif pada kehidupan kita adalah sia-sia, absurd, dan tanpa makna.
Kalo kita menyangkal dan beranggapan bahwa hidup kita gak sia-sia karena punya tujuan yang jelas. Tetap saja, kita seperti Sisifus, upaya kita mencapai tujuan tersebut gak jauh beda seperti mendorong batu ke puncak bukit. Lalu setelah kita berhasil sampai di puncak, apa yang akan kita lakukan?
Meraih satu tujuan bukanlah suatu akhir dari manusia, saat kita sudah berada puncak, kelegaan hanyalah sementara dan kita gak akan berdiam diri. Karena sifat manusia yg gak pernah merasa puas, kita akan memasang target dan tujuan yang lebih jauh lagi. Hingga pada akhirnya kita akan mendorong batu tersebut lagi, lagi dan lagi sampe kehidupan kita selesai. Absurd.
Dalam cerita ini Albert Camus nggak bermaksud untuk membuat pembaca merasa putus asa, muram, pesimistis. Ia justru memberi pesan pembaca untuk melakukan pemberontakan terhadap keabsurdan hidup dan mengakui keabsurdan hidup yg sedang manusia hadapi.
SOLUSI
Kalo memang relate dengan kehidupan kita, apa yang harus kita lakukan? Albert Camus sebagai penulis dari essay filsafat tersebut berkata dengan pasti, “Kita harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia (melakukan pekerjaan tersebut).”
Saya, kamu dan kita semua menerima hukuman Sisifus.
Kita gak sendiri. Ini akan berlalu
Kalo kita sibuk mencari makna dari kehidupan ini, upaya kita akan sia-sia, karena gak ada makna dalam kehidupan selain makna itu dibuat oleh kita sendiri. Absurdisme.
Kita bisa memahami aliran absurdisme yg dimaksud oleh Albert Camus dari novel yang berjudul La Peste (1947).
Dalam novel ini, kota Oran diserang wabah penyakit yang menyebabkan kematian banyak warganya. Wabah tersebut membuat orang-orang mencoba mengerti dan memaknai apa arti kondisi tersebut. Ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang murni melihatnya sebagai sesuatu yang rasional (persoalan medis semata: virus penyebabnya), ada yang menganggapnya sebagai berkah (karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yg lainnya).
Namun diantara upaya-upaya memaknai kehidupan tersebut, Camus seolah mau berkata lewat tokoh dokter bernama Bernard Rieux, bahwa sikap yang benar adalah menerima ketidakmampuan manusia untuk memaknai kehidupan tersebut dengan sejujur-jujurnya, dan mencoba untuk hidup berbahagia saja.
Parafrase Albert Camus dari Novel The Plague (Le Peste):
Meski hidup itu sia-sia, jalani saja, dan jangan lakukan dua hal: kabur pada harapan indah di masa depan atau menyerah bunuh diri.
Kabur pada harapan indah di masa depan akan membuat kita merasa hidup di masa depan bakal sesuai ekspektasi (muluk-muluk), bagaimana kalo gak sesuai? Menyerah bunuh diri bukan solusi.
Sikap yang benar adalah menerima dengan terbuka (hati yg lapang) apa yg sedang terjadi saat ini, meski dengan perjuangan yang perih, lalu meraih kemenangan hidup secara merdeka dan mati dengan wajar seperti sisifus mengerjakan hal sia-sia sepanjang hidupnya.
**⌗
Filosofi ini membantu sebagian orang dalam menguatkan mental setiap ditimpa kondisi yg gak enak, tetap betah menjalani hidup yg kadang berdarah-darah. Tetap melakukan hal yg bermanfaat yg gak bertentangan dengan moral dan hukum.
**
Sumber bacaan: